herlangga juniarko

Powered By Blogger
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, October 7, 2024

Alusi

Selepas mengajukan naskah ke sebuah penerbitan, dan mendapat kembali penolakan, seperti di beberapa penerbit lainnya, kau lekas berjalan menuju sebuah kafe di tepi kota, guna memenuhi sebuah janji.

Tadi pagi, tepatnya selepas matahari terbit, saat kau hendak tidur selepas merampungkan sebuah naskah drama-pertunjukan-pesanan dari sebuah grup teater kecil di kotamu, telepon genggammu berbunyi; dan kau pun mengangkat telepon itu. Seorang perempuan bertanya apakah nanti malam kau luang, dan kau pun menjawab luang; perempuan itu berkata hendak mengatakan hal yang penting padamu, sehingga mesti bertemu langsung, dan kau pun mengiyakannya tanpa bertanya soal apa, sebab kau merasa itu akan melukainya.

Selepas menyampaikan hal demikian, perempuan itu tak lupa berpesan agar kau lekas tidur, sebab dia amat hapal bahwa kau selalu suka begadang mengerjakan tulisan, dan berharap kau mengurangi kebiasaan buruk yang merusak tubuhmu; dan dengan lembut kau pun mengiyakannya.

Sesampainya di tempat tersebut, kau memilih tempat duduk di dekat jendela dan meletakkan tas cangklongmu yang berisi beberapa buku bacaan, naskah buku puisi yang ditolak, sebuah naskah drama pesanan penuh coretan, dan beberapa kertas serta sebuah bolpoin hitam, dan juga sebuah payung lipat di bawah meja.

Di atas meja, yang tak terlalu besar, yang tampaknya berusia tua, ada pesananmu: segelas kopi hitam. Dan pesananmu itu belum kau minum; sebab kau lebih memilih memandang keluar dan membiarkan pikiranmu melayang-layang.

Sambil menanti perempuan itu datang, pikiranmu terbawa pada lentera hijau dalam novel Great Getsby; dan kau pun membayangkan hal itu ada di jauh sana, dan kau memandangnya dari tepi sebuah pantai, dan membayangkan di lautan itu ada kapal yang tak pernah berhasil mencapai pantai bahkan pantai keempat Chairil.

Penyair

“BULAN depan aku diundang mengikuti acara temu penyair lagi,” ujar suamiku sambil merebahkan tubuhnya di sampingku.

Malam sudah larut. Aku sudah mengantuk dan bahkan sudah memejamkan mata. Tapi, gara-gara ucapannya itu, rasa kantukku seketika lenyap.

Aku merasa ingin sekali mengajaknya bicara serius tentang kepenyairannya yang sudah kuanggap gila atau tidak waras lagi. Bagaimana bisa disebut penyair waras, kalau suamiku sudah seperti ketagihan menghadiri undangan temu penyair yang belakangan nyaris rutin tiap bulan?

Padahal, akulah yang harus membiayai kepergiannya karena ia tidak punya penghasilan. Pernah suamiku mencoba mengajukan proposal bantuan dana kepada pemerintah daerah, tapi birokrasi terlalu berbelit-belit: proposal harus dilampiri surat keterangan dari RT, RW, desa dan kecamatan, yang membuatnya pusing dan malas mengurusnya lagi.

Sebagai istri, aku pun malu punya suami yang dianggap suka meminta-minta bantuan kepada pejabat yang tidak mengenal dunia kepenyairan. Malah, ceritanya, dia juga pernah diragukan kepenyairannya oleh petugas sekuriti di pendapa kabupaten ketika mau mengajukan proposal kepada bupati.

“Jangan ngaku penyair. Saya sejak kecil suka puisi, tapi belum pernah baca puisimu. Kalau bohong ke Pak Bupati, kamu bisa dipenjara! Silakan bawa pulang proposal ini!”

Friday, March 5, 2021

Rumah Dinas

oleh: Riyan Nugraha

    
Matahari mulai meninggalkan peraduannya, hari yang begitu cerah pada awalnya sedikit demi sedikit mulai habis dikikis cahaya bulan yang siap menerangi malam. Apakah hal yang sama akan terjadi pada sekelompok orang-orang yang sangat luarbiasa ini? Sekumpulan laki-laki yang sangat menjaga tali kekerabatan yang baru dijalin sekitar setengah tahun yang lalu. 11 orang yang sangat supel dan sangat bersahabat, tentunya sangat kompak.
    Seperti sudah menjadi kebiasaan yang biasa dilakukan secara rutin, hari jum’at adalah hari olahraga dan orang-orang ini sangat bersemangat ketika hari tersebut karena sebuah kebiasaan serta ritual mereka setiap minggunya akan dilakukan. Segala aktivitas di hari itu akan dilakukan dengan maksimal oleh mereka di samping akan menyambut weekend juga karena sudah lelah dengan keseharian yang memeras otak.

    11 karakter serta sifat yang berbeda-beda akan berbaur satu sama lain seolah-olah menjadi satu paham.
    “Abis olahraga mau ngapain nih cuy?”

Monday, September 5, 2016

Monday, April 4, 2016

Cerita Picisan dari Jalan Malioboro

oleh: Herlangga

            Hari ini aku mempersiapkan diri untuk pernikahan. Ia yang sangat kucintai sudah bersiap dengan pakaian pengantin yang berwarna putih bersih. Tentu saja aku yakin bahwa hatinya pun bersih seperti wajahnya yang selalu bersinar laksana purnama malam kelam atau lentera yang menerangi tidurku. Mengingat wajahnya seperti mengingat kala pertama kali aku berjumpa derngannya.
***
            Seorang laki-laki berjalan dan akhirnya menjatuhkan buku seorang perempuan di jalanan penuh sesak Malioboro. Seperti dalam cerita-cerita singkat di layar kaca, mereka akan jatuh cinta. Maka laki-laki itu pun membantu membereskan buku sang perempuan. Mereka akan saling tersenyum dan beberapa hari kemudian mereka akan menjadi sepasang kekasih picisan.
            Aku dari sudut jalan hanya memandangi mereka sambil berpikir bahwa mereka akan menjadi pasangan yang sangat serasi seperti dalam cerita-cerita dalam layar kaca. Meskipun dalam layar kaca tersebut cerita selalu berakhir setelah mereka menjadi sepasang kekasih dan entah apa yang terjadi selanjutnya, apakah mereka akan berpisah atau melanjutkan hubungannya. Semua menjadi gelap setelah itu.
            Aku sedikit termenung dan berpikir sekejap kemudian. Aku membuat sebuah puisi singkat saat itu. Saat perempuan tadi melewatiku. Aku menggenggam tangannya dan sedetik kemudian kuberikan puisiku tadi.
            Reaksinya adalah tentu saja ia melepaskan tangannya dari genggamanku secepat mungkin lalu mengempaskan puisiku begitu saja kemudian berjalan dengan sangat cepat menjauhiku. Saat itu aku masih terpaku di sana, sedangkan mataku tak bisa lepas dari dirinya. Sungguh, ia sangat cantik. Mungkin tercantik yang pernah kutemui.
            Setalah itu, masih dapat kudengar suaranya sayup-sayup sampai ke telingaku.
            “Dasar orang gila yang konyol!” katanya
            Suaranya tak pernah dapat kulupakan sejak saat itu dan terus mengalun.

Saturday, March 5, 2016

Kunang-kunang Dalam Bir

oleh: Agus Noor

Di kafe itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas buah dada. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan penyanyi itu. I just called to say I love you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tak membiarkan dia pergi. Tak membiarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya tak pernah membuatnya kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu….”

Friday, March 4, 2016

Lima Detik

oleh: Herlangga

             Ternyata jam tanganku sudah menunjukkan pukul 14.00 dan kuliah hari ini pun telah berakhir dengan damai. Sekarang yang ada hanyalah aku dan pacarku, kami hendak berjalan bersama ke tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi bersama sebelumnya hari ini.
            Dan sekarang akan kalian dapati aku yang berjalan bersama pacarku di jalanan kampus. Sepanjang perjalanan ini sepertinya aku tak dapat berhenti memandangi pacarku yang cantik itu. Rambut panjangnya yang terurai seperti memberi aura tersendiri baginya. Oh, dia berkata bahwa dia telah meluruskan seluruh rambutnya kemarin demi hari ini.
            “Weekend ini sepertinya akan sangat berbeda. Jadi, aku akan merubah seditik penampilanku” katanya padaku kemarin sebelum kami berpisah di persimpangan jalan.
            Sejatinya, aku tak terlalu suka perubahan karena itu mungkin akan merubah takdirmu. Ya mungkin, tetapi kita tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bukan? Seperti saat ini, tiba-tiba aku terpeleset karena menginjak sesuatu yang sangat licin.
            Aku tak tahu apa yang aku pikirkan saat itu, tetapi aku secara tiba-tiba melihat pasangan lain di depanku. Mereka saling melepaskan tangan. Oh aku ingat.

*Detik 1
            “Kita putus.” Kata perempuan itu 5 detik yang lalu
            Pria yang ada di hadapannya hanya terdiam seperti paku yang baru membeku.
            “Tapi” kata pria itu dan itu adalah kata terakhirnya sebelum aku menyadari mereka saling melepaskan genggamannya.

Thursday, March 3, 2016

Mi Querido

oleh: Pringadi Abdi


- "Jika cinta tak dapat dimiliki, mungkin memang seharusnya kita membuangnya jauh-jauh. Membuangnya ke tempat yang terdalam" -
 
Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran. Padahal kau (begitu pun aku) telah sama-sama jatuh cinta pada Braga yang menguapkan segala kekakuan kota. Kekakuanmu. Kekakuanku. Kekakuan segala tetek bengek rumus matematika dan fisika di kelas-kelas jam tujuh pagi. De Gauss gila. Descartes yang sia-sia. Cinta. Ah, aku padamu bagai dahan pohon cemara, ditepuk angin, dan benarlah Chairil itu, hidup hanya menunda kekalahan.

“Katakanlah...”

“Apa?”

“Yang seharusnya ingin kau katakan.”

Padahal aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak ingin membiarkan segala huruf berloncatan dan meledekku dari kejauhan, kemudian udara dingin menggigilkanku lewat sela sweater yang kukenakan (meski berlapis), menatap matamu dan api menyala-nyala di dalamnya seolah Patuha siap menyemburkan lahar yang mati, tetapi yang kurindukan tetaplah hangatnya pelukanmu.

“Jangan sentuh aku lagi...aku tidak mau tanganmu yang memiliki bekas perempuan lain.” Tambahmu marah. Tetapi wajahmu tenang-tenang saja sambil menyuap lembutnya es krim yang pertama kali kukenalkan kepadamu, ketika hujan rintik-rintik dan kita terbiar di atas kedua belah kaki, tak berpayung, dan berlari-lari kecil seolah dikejar kecemasan. “Aku takut gerimis...” begitu kau bilang kepadaku kala itu. Aku pun hanya bisa menangkupkan jaketku ke atas kepalamu dan kau tersenyum manis dengan lesung pipitmu itu.

“Aku masih mencintaimu, Lin....”

“Dan kau mencintainya juga?”

Sunday, December 20, 2015

Pagi Hari dan Cerita-cerita Tentang Kemarin

oleh: Herlangga
 
“Sejujurnya, aku sungguh tidak menyukai orangtuaku”

            Pagi ini, awan masih mendung. Rinjani masih tertidur di sampingku. Lampu masih menyala. Dan ranjang ini masih hangat. Semua sepertinya akan baik-baik saja meskipun aku tak menginginkannya.
            Aku beranjak dari ranjangku dan mulai membuat segelas kopi untuk menyegarkan pikiran dan jiwa. Sambil duduk di ruang tamu aku masih memikirkan kenangan yang selalu ingin kulupakan, yaitu orangtuaku.
            “Oh kau sudah bangun?” aku melihat Rinjani yang masih terlilit selimut. Wajahnya sungguh cantik setiap paginya dengan rambut panjang terurai agak berantakan. Ia masih terlihat cantik.
            Kemudian ia duduk di sampingku dan juga mulai meminum kopiku. Setelah menghela nafasnya, ia menyandarkan tubuhnya padaku.
            “Hei Rangga” katanya. “Apakah ini semua akan baik-baik saja?”
            “Tentu saja ini akan baik-baik saja. Selama kita saling memiliki, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan” kataku sambil tersenyum.
            “Jadi, apakah kamu benar-benar tak ingin menikahiku?” katanya. Kini mata kami saling bertemu, lalu angin seperti berhembus perlahan dan mengingatkanku pada sebuah kenangan yang tak pernah terlupakan.
***
            “Jadi ini semua salahku?” ayahku sambil memegangi tangan ibuku dengan kuat berteriak.
            Malam itu aku terbagun karena suara teriakan ayah dan ibuku. Meskipun umurku baru sepuluh tahun tapi aku sudah mengerti situasi yang terjadi saat ini. Jadi, aku menenangkan adikku yang terbagun juga.
            Mungkin adikku yang baru berumur lima tahun itu juga mengerti situasi yang terjadi saat ini. Aku pun berusaha agar ia tidak menangis dan mulai membuatnya kembali tidur.

Saturday, August 15, 2015

Pada Sela-sela Stasiun

oleh: Herlangga


            Tak biasanya ia duduk sendiri di bangku stasiun kereta api sambil termenung. Kekasihnya baru saja meninggalkannya kemarin. Sekarang ia hanya bisa termenung  dan membayangkan wajah kekasihnya seperti terbawa arus derasnya kereta api.
            Seperti prosa, hujan dan senja selalu membawa kesedihan pada tokohnya. Tetapi sekarang di stasiun ini, ia tak menemukan sedikit pun bulir air yang jatuh ke atap stasiun. Sedangkan senja masih terlalu lama untuk dinanti. Sekarang pukul 10.00, masih ada 44 menit lagi untuk meninggalkan stasiun tua ini.
            Ia pulang cepat hari ini. Bandung-Cicalengka. Rute yang selalu ia lalui dengan kebahagiaan. Ia bahkan tak percaya bahwa barui kemarin ia pulang bersama kekasihnya dan sekarang ia harus pulang bersama kesedihan. Padahal ia masih mencintai sang kekasih.
***
            Di salah satu sudut stasiun, terlihat seorang pria agak kecil dengan pakaian khasnya yang hitam. Mungkin ia sedikit kelelahan setelah menjalani kehidupannya seharian ini. tetapi kelelahannya selalu lenyap saat ia pulang, karena sekarang ia sedang duduk di samping kekasihnya. Kelelahan selalu terkikis sedikit demi sedikit setiap kali ia memandangi sosok dengan kerudung coklat panjang dan berkacamata di sampingnya.
            Saat ini jam menunjukkan pukul 16.00. Pria itu mulai membuka pembicaraan agar waktu tak terlalu membeku saat itu, meskipun jika bisa ia ingin seperti itu selamanya. Biarlah waktu membeku agar kekasihnya tetap di sampingnya.
            “Mawar, apakah harimu menyenangkan hari ini?” Ia mulai berbicara.

Tuesday, February 24, 2015

Daun-daun yang Berguguran Saat Senja

oleh: Herlangga


Senja ini aku teringat padamu, Rinjani. Awan yang berarak-arak menyapu kemilau matahari kemudian membuat suasana menjadi sayup. Warna langit berubah seketika menjadi melankolis. Itu semua membuatku teringat padamu.
            Di luar gerimis membuat senja semakin muram. Besi-besi yang beradu dan bergesekan dengan rel yang sempat panas membuat tubuhku terguncang sedikit. Inilah kereta yang mengantarkan jiwa-jiwa penuh rindu. Deru mesin terus bergelora membahana hingga memecah malam yang hendak terbit dari sela-sela siluet senja. Tetapi sekarang masih senja, Rinjani. Dan aku terus teringat padamu.
            Pada kaca jendela kereta, bukan pemandangan yang terhampar bebas di luar dan sehamparan pohon-pohon rindang yang membuatku terpesona, tetapi bayangan dirimu yang tak juga pergi dari kedalaman otakku dan tercerminkan di kaca jendela yang membuatku merasa bahagia. Apakah kau masih mengingatnya? Ciuman pertama kita yang terjadi ketika senja di bawah sebuah pohon rindang yang tidak aku tahu namanya, namun daun-daunnya terus berguguran tiada henti serupa gerimis.
***
“Hei, apakah kau tahu mengapa daun dari pohon ini selalu berguguran saat senja?” tanyamu saat itu.

Friday, June 6, 2014

Untuk Miwa

oleh: Sanda Nuryandi


            Apa kau masih ingat ketika pertama kali mata kita saling bertemu? Ketika pagi hari yang berselimut kabut tipis, yang seolah-olah membungkusmu dalam kelambu tipis. Aku menulis ini untukmu, perempuan yang sudah membuatku tahu bahwa keindahan yang ada di dunia ini tidak akan sempurna kalau kau tidak ada. Sekarang kau mungkin sedang menonton dorama di salah satu channel televisi yang ada disana dibawah kotatsu yang menghangatkan tubuhmu. Disana sedang musin dingin kan? Jangan lupa jaga badanmu. Atau mungkin sekarang kau sedang berjalan pulang dari tempatmu kerja sambilan. Atau jangan-jangan disana pada waktu malam hari kau berubah jadi pembela kebenaran yang mengawasi keamanan kota dan sekitarnya, aku tidak tahu. Oh, ngomong-ngomong, disini sedang musim hujan. Salah satu yang terparah dalam 10 tahun terakhir, bahkan di beberapa tempat banyak pohon yang tumbang karena anginnya terlalu kencang. Tapi kau jangan khawatir, rumahku baik-baik saja. Walaupun sempat air dari luar masuk kedalam rumah tanpa permisi. Hey, aku rindu.
           Oh iya, hampir lupa. Tadi aku bertanya, apa kau masih ingat pertama kali ketika mata kita saling bertemu? Iya, pagi itu. Waktu kau duduk di bangku di taman itu. Bangku taman tempatmu biasa menunggu matahari menyapa punggungmu yang dingin. Kurasa aku sudah pernah memberitahumu hal ini, tapi aku ingin menceritakannya lagi. Dan kuharap kau tidak ingat, supaya usahaku untuk menceritakannya jadi tidak sia-sia.

Friday, May 23, 2014

Kutuliskan Bayangmu Dalam Rintik Hujan

oleh: Herlangga


            Di kafe itu bau rinai hujan masih semerbak dari luar jendela. Air-airnya terus bercipratan setelah usai berhantaman dengan bumi yang kupijak ini. Kafe dan hujan kini seolah-olah mengingatkanku pada kejadian saat itu. Saat dunia masih terlalu sempit untuk kita berdua dan akhirnya aku melamarmu di kafe kenangan ini.
            Hidup memang belum usai benar dan hari pasti berganti menjadi esok, tapi kata-kata bijak yang sering kudengar di televisi sebagai amanat seperti selalu menamparku.
            “Hari ini adalah anugrah dan esok haruslah lebih baik dari hari ini” katanya. Itulah kata-kata yang terus menamparku dari waktu ke waktu karena hari esokku kini sudah menguap bersama air hujan sore ini.
            Padahal ketika itu kita sudah di ujung pernikahan. Lamaranku sudah kau terima dengan sempurna kala itu. Dan dengan manis kau tersenyum padaku sambil menerima cincin itu. Aku pun sudah mendatangi ayahmu dan mengungkapkan maksud hati dan akhirnya ia pun menyetujuinya.
            “Aku sangat senang sekali saat ini” kataku.
            “Ya, aku pun begitu” katamu membalas sambil terus menyiapkan pernikahan kita.
            Dan tiba-tiba hal itu terjadi ketika seminggu sebelum pernikahan kita dimulai. Kita hendak membuat kartu undangan untuk rekan-rekan kita agar bisa datang ke pernikahan istimewa ini.

Saturday, April 12, 2014

Hanya Seperti Itu Saja, Tidak Lebih, Tidak Kurang

oleh: Herlangga


            Yah mau bagaimana lagi, kita memang hanyalah teman sekelas yang saling mengakrabka diri tidak lebih dan tidak kurang. Itu menurutmu mungkin dan juga menurut teman-teman sekelas kita. Tapi jika itu sudah cukup untuk membuat diriku lebih dekat denganmu, itu sudah cukup. Setidaknya, dengan begitu aku bisa mengobrol dengan mu secara biasa, bercanda secara biasa, dan belajar bersama seperti biasa. Itu sudah cukup.
            Padahal sudah tiga tahun kita sekelas, dari kelas sepuluh sampai sekarang kelas dua belas dan hendak menghadapi Ujian Nasional. Tapi obrolan kita hanya sekitar pelajaran, tidak lebih. Selalu tidak pernah bisa lebih intim. Yah setidaknya itu pun masih bisa membuatku senang.
            “Ga, kerjain tugas ini yah” katamu sepulang sekolah dengan ceria. Itu adala tugas kelompok bahasa Indonesia kita. Anggotanya hanya ada empat orang. Dari tiga anggota lainnya yang merupakan teman dekatmu, kenapa pula kau harus memilihku untuk mengerjakan tugas yang membosankan ini. Menganalisa puisi, sungguh tidak menyenangkan.
            Tapi kau tahu, aku selalu tidak bisa menolak permintaanmu. Ya aku tahu kau memang selalu sibuk dengan organisasimu, mungkin teman sekelas kita pun tahu. Jika sudah begini, mau tidak mau aku pun harus mengerjakan tugas kelompok kita sendirian lagi.

Wednesday, October 23, 2013

Catatan Kuliah: Hari Pertama



            Hari pertama kuliah. Terasa cukup aneh bagi saya yang telah terbiasa berseragam bertahun-tahun. Tidak ada seragam, hanya berpakaian serapihnya saja. Pergi ke kampus UPI menggunakan kereta subuh sekitar jam 5 pagi.
            Karena hari pertama maka masih semangat, maka hari itu saya memakai parfum untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, maka saya menyisir rambut pula untuk pertama kalinya setalah bertahun-tahun, maka saya mandi karena itu masih perlu bagi saya, dan maka-maka yang lainnya yang saya lakukan. Maklum masih hari pertama harus jaga imej.
            Namun naas! Pagi itu saya lupa satu hal. Pagi itu saya menggunkan kereta ekonomi pertama yang berisi penuh sumpek oleh para pedagang, dari pedagang lap, tahu, minuman dan makanan umum lainnya. Adapula yang membawa barang bawaan, dari anak, sepeda, dan yang paling sial ada yang bawa kambing di ujung gerbong sana. Maka semua “maka” saya tadi pun akhirnya tumpas sudah dihantam badai peluh dalam kereta.
            Sesampainya di Bandung, saya telah bagaikan orang yang tidak pernah mandi selama seminggu penuh (meskipun ini memang sering terjadi jika sedang malas). Tetapi semangat kuliah hari pertama untungnya yang benar-benar untung masih ada. Jadi saya pergi dengan berjalan kaki bukan sampai UPI melainkan hanya sampai depan stasiun karena berjalan kaki sampai UPI itu akan sangat melelahkan dan sangat lama pastinya (pada akhirnya saya tahu jalan kaki dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam). Jadi yang sejadi-jadinya saya pun naik angkot ST HALL-Lembang.

Monday, July 1, 2013

MMK

oleh: Putu Wijaya


            SEORANG anak bertanya kepada neneknya:”Nenek,… itu apa?”Perempuan tua itu ternganga. Sebelum dia sempat membuka mulut, pertanyaan itu berkembang.
”Nenek punya … tidak?”Orang tua itu kontan shock. Tetapi cucunya terus juga bertanya.
”Sekarang Nenek punya berapa …?”Karena tak kuat menahan kekurangajaran itu, nenek itu langsung pergi meninggalkan cucunya. Ia mengungsi ke rumah tetangga. Ketika anak dan menantunya pulang, ia langsung melapor sambil menangis.
”Anakmu kurang ajar. Pengaruh film, televisi, pergaulan bebas, dan narkoba sudah membuat dia bejat. Ajari anakmu moral, jangan hanya dikasih duit! Mau jadi apa dia nanti kalau sudah besar? Setan?”Menantu nenek, ibu anak itu langsung mencari anaknya. Tanpa bertanya lagi anak itu langsung diberinya hukuman.
”Kamu sudah kurang ajar kepada nenek, mulai sekarang duit uang makan kamu dikurangi, sampai moral kamu lebih baik. Kamu harus belajar menghormati orang tua. Orang tua itu adalah asal muasal dan cikal bakal kamu, kamu sama sekali tidak boleh membuat orang tua marah. Sekali lagi kamu kurang ajar, ibu kirim kamu ke desa! Tidak usah membela diri!”Anak itu tidak berani menjawab. Tetapi ketika keadaan menjadi lebih tenang, dia menghampiri bapaknya, lalu kembali menanyakan pertanyaan yang belum terjawab itu.
”Pak, — itu apa?”Bapak anak itu terkejut. Cangklong yang sedang diisapnya sampai terlepas. Tetapi ia mencoba tenang, lalu menjawab dengan taktis diplomatis:
”Rambut adalah mahkota semua manusia. …. itu adalah mahkota wanita.

Friday, June 28, 2013

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?

oleh: Seno Gumira Ajidarma



“Lihatlah bagaimana aku mencintaimu kekasihku. sudah begitu lama kita berpisah, tapi aku ingin mengawinimu. Telah kuraih gelar MBA dari harvard. Telah kududuki jabatan manajer perusahaan multinasional. Telah kukumpulkan harta benda berlimpah-limpah. Kawinlah denganku. Kuangkat kamu dari lembah hitam. Marilah jadi istriku. Jadi orang baik-baik, terhormat dan kaya. Ayo pergi dari sini, kita kawin sekarang juga.”
Ia tersenyum, masih seperti dulu. Ada kerutan di ujung matanya, tapi masih menatap dengan jalang. Dan setiap kali aku menatap mata itu, dadaku rasanya bagai tersirap.
”Ayolah kekasihku, cepat, kita pergi dari sini. Lihatlah Baby Benz yang menunggumu. Akan kumanjakan kamu seperti ratu. Pergilah dari tempat busuk ini. Jauhilah lagu dangdut. Jauhilah bir hitam, marilah memasuki dunia yang elit dan canggih. Kuperkenalkan kamu nanti dengan dunia Mercantile Club, dunia para pedagang dan para manajer internasional. Kuajari kamu main polo, kuajari kamu naik kuda, kuajari kamu bicara Prancis, sambil sedikit-sedikit mengutip Simone De Beauvoir. kujadikan kamu seorang wanita diantara wanita. Berparfum Poison keluaran Christian Dior, berbaju rancangan Lacroix, bercelana dalam Wacoal. Cepat kekasihku, pergi bersama aku. Waktu melesat seperti anak panah. Jangan sampai kamu jadi tua disini. Menjadi kecoa yang tidak berguna.”
Ia tersenyum lagi. Matanya jalang sekali. Rambutnya keriting dan panjang.
”Ayo cepat kekasihku. Cepat. Jangan sampai dunia berubah. Tak ada yang kekal didunia ini. Tak ada yang setia. Ayo cepat. Tunggu apa lagi?”

Wednesday, June 19, 2013

Hari Ulang Tahun



oleh: Herlangga Juniarko

            Hari ini adalah hari yang sungguh seharusnya sangat membuatnya bahagia. Untuk sebagian orang, hari ulang tahun adalah hari yang cukup spesial dengan berbgai kebahagiaan memutari setiap waktu pada tanggal tersebut. Begitu pula yang terjadi pada Evie, dia memaknai hari ulang tahunnya kali ini dengan berbagai renungan yang begitu dalam, renungan yang selalu ia sadari bahwa ia adalah hanya makhluk Allah SWT dan ia takkan mampu untuk menyalahi hal itu.
            Sakitnya semakin parah saja di hari ulang tahunnya ini, ia mengalami kanker pankreas stadium empat yang akan membuat kesempatan hidupnya kini semakin menipis. Kini ia hanya akan mencoba menjadi sang mentari yang menyinari dunia di hari senja. Kini ia hanya berpasrah pada takdir yang Allah berikan padanya dan berusaha untuk menjadi lebih indah ketika ajalnya mulai mendekat.
            Di malam ulang tahunnya yang seharusnya akan selalu berakhir bahagia. Ia hanya duduk terpaku di teras rumahnya. Teras yang selalu meneduhkan hatinya dengan pohon-pohon kersen dan mangga yang ada di halaman rumahnya. Ia hanya duduk termenung sambil sesekali membenarkan kerudung sucinya.
            Di malam yang dingin itu, kini ia merasa dekat sekali dengan Sang Penciptanya. Ia ingin sekali bertemu dengan sang penciptanya itu, meskipun ia merasa diri tak akan pernah pantas untuk bertemu dengan-Nya.

Monday, June 17, 2013

Obrolan Kamar Remang-remang



oleh: Herlangga Juniarko
 
            Kini kamar itu tengah diisi oleh sepasang kekasih lelaki dan wanita yang tengah asyik bermain cinta dan memadu kasih dengan tanpa balutan apapun dalam diri mereka, tanpa dosa yang akan terus mengganggu mereka, dan tanpa adanya keraguan yang akan mereka tanggung kelak suatu hari.
            Keduanya tengah asyik bermain cinta di sebuah kamar remang-remang dengan sebuah kasur busa dengan ukuran untuk dua orang saja. Selain kasur, kamar itu tak berisi apapun juga kecuali lantai keramik putih yang disinari sebuah bohlam yang menghasilkan suasana oranye yang hampir padam untuk menambah syahdunya cinta mereka.
            Pasangan itu masih asyik saja bermain cinta tanpa peduli apa yang ada di sekitar mereka. Mereka tak peduli pada nyamuk-nyamuk malam, semut dan cicak yang kini sedang menonton aksi dari perbuatan mereka, bahkan mereka tak peduli pada setiap setan, malaikat, dan Tuhan yang sedang mengawasi mereka saat ini. Mereka hanya peduli pada kenikmatan yang sedang di rengguknya dari diri masing-masing. Kenikmatan yang akan mengikat mereka, setidaknya itulah yang dikatakan orang-orang kebanyakan.

Monday, May 20, 2013

Tangis Rahwana


oleh: Soni Farid Maulana

SUNGGUH tak pernah saya duga,kita bertemu disini – setelah berpisah ratusan tahun, bahkan ribuan tahun lalu. Sungguh tak pernah saya duga; kita bertemu dalam suasana yang sangat berbeda dengan apa yang pernah terjadi di masa lampau. Sita, apa kabar selama ini?” ujar Rahwana,yang secara kebetulan malam itu dirinya bertemu dengan Sita pada sebuah café di bilangan Bukit Dago Utara, di penghujung Abad 20.
Saat ini sesungguhnya Rahwana ragu-ragu menyapa seorang perempuan yang ada di hadapan dirinya. Perempuan tersebut baru saja turun dari sebuah kendaran roda empat yang dikemudikannya sendiri. Rahwana yakin, bahwa perempuan yang disapanya itu : Sita. Sita yang ditatap dan ditanya Rahwana seperti itu, hanya bengong. Ia berfikir keras-mencoba mengingat-ngingat lagi segala apa yang dialaminya di masa lampau, apa pernah ia bertemu dengan seorang lelaki yang kini menyapa dirinya?