herlangga juniarko

Powered By Blogger

Monday, May 20, 2013

Tangis Rahwana


oleh: Soni Farid Maulana

SUNGGUH tak pernah saya duga,kita bertemu disini – setelah berpisah ratusan tahun, bahkan ribuan tahun lalu. Sungguh tak pernah saya duga; kita bertemu dalam suasana yang sangat berbeda dengan apa yang pernah terjadi di masa lampau. Sita, apa kabar selama ini?” ujar Rahwana,yang secara kebetulan malam itu dirinya bertemu dengan Sita pada sebuah café di bilangan Bukit Dago Utara, di penghujung Abad 20.
Saat ini sesungguhnya Rahwana ragu-ragu menyapa seorang perempuan yang ada di hadapan dirinya. Perempuan tersebut baru saja turun dari sebuah kendaran roda empat yang dikemudikannya sendiri. Rahwana yakin, bahwa perempuan yang disapanya itu : Sita. Sita yang ditatap dan ditanya Rahwana seperti itu, hanya bengong. Ia berfikir keras-mencoba mengingat-ngingat lagi segala apa yang dialaminya di masa lampau, apa pernah ia bertemu dengan seorang lelaki yang kini menyapa dirinya?
Tiba-tiba bagai disambar petir, Sita terkejut sendiri. Ia yakin betul bahwa lelaki yang ada dihadapan dirinya itu, memang pernah dikenalnya, dulu ratusan, mungkin ribuan tahun lampau.
“Rahwana, benarkah?” Tanya Sita, pelan dan datar. Seakan-akan tidak percaya terhadap apa yang dialaminya saat itu.
“Ya!” jawab Rahwana sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu ditatapnya Sita dengan penuh perasaan. Rahwana tidak menduga bahwa dalam pertemuannya dengan Sita kali ini ternyata memberikan sebuah pengalaman yang lain. Rasa cintanya terhadap Sita masih tetap menyala dan bahkan tetap membara sekalipun Rahwana sadar bahwa kini dirinya bukan lagi orang yang berkuasa. Ia telah lengser dari kursi kekuasaannya di Kerajaan Alengka.
Konon, setelah bebas dari hukuman yang dijatuhkan Hanoman pada dirinya, Rahwana tidak sudi lagi kembali ke dalam teks dunia perwayangan. Ia lebih baik mengembara ke dunia nyata, yakni dunia manusia. Ia hidup di penghujung Abad 20, jadi penyair. Bekerja sebagai wartawan pada sebuah media massa terkemuka dikota ini. Setiap malam jiwanya yang romantik itu selalu membawa tubuhnya mengembara dari café ke café, atau mengembara dari remang lampu ke remang lampu warung kopi di pinggir jalan. Semua itu dihayatinya, kemudian direkam dan dikekalkannya dalam berbagai puisi yng ditulisnya. Selalu dari sekian puisi yang ditulisnya itu ada yang ditujukan untuk orang yang dicintainya, Sita. Salah satu puisi yang dimuat I majalah sastra terkemuka di negeri ini, majalah sastra Garis itu berbunyi begini:

Lingkaran Bulan
-          Untuk Sita

Ya, memang jarak dan bahasa memisah kita
Tapi rinduku padamu adalah hembusan angin
Yang berdesau dan berdesau
Dari dahan ke dahan cemara. Mengalir dan berdesir

Mencari keteduhan hatimu. Malam alangkah dingin
Di sini. Suara kendaraan menghilang dalam
Pendengaran, tiang listrik dipukul orang: -- bunyinya
Menggema dalam batinku, mengekalkan kerinduanku
Padamu

Malam alangkah kelam
Maut yang bengis bertudung kian hitam.
Masih kuingat di tepi telaga di alengka

Hangat desah nafasmu yang lembut
mengguncng perasaanku yang dalam
tanpa jarak dan bahasa

1997

Kini Rahwana benar-benar merasa tenteram hidup jadi rakyat biasa di alam nyata – daripada hidup jadi penguasa yang serakah dan lalim bahkan zalim di dalam teks pewayangan. Hal itulah yang kini disesalkannya. Betapa atas seluruh tindak-tanduknya ketika itu – bukan memberikan kebahagiaan pada rakyat yang dirajainya, malah sering menghadiahinya dengan berbagai kesengsaraan. Kesengsaraan yang demikian pahit itu, diterima pula oleh segenap keluarga dan kerabatnya.
            Setelah bertobat, tujuan Rahwana ke alam nyata di penghujung abad 20, tiada lain ingin menguburkan segala pengalaman buruknya di masa lalu. Ia ingin menghapus seluruh pngalaman hidupnya yang pahit ketika lamarannya yang  pertama saat itu ditolak Sita, sekalipun pada saat itu Sita telah berhasil diculik oleh Rahwana dari tangan Rama yang pada saat itu adalah suami resmi Sita. Akibat dari tingkah lakunya yang kurang ajar mencuik Sita dari tangan Rama, Rahwana harus menerima hukum yang kelak dijatuhkan Rama, antara lain perang. Negaranya dihancur leburkan. Kekuasaannya dipereteli, sehingga sosok Rahwana sebagai Raja Alengka yang angker—seketika tidak lagi punya wibawa di mata rakyatnya sendiri. Derajatnya langsung anjlok lebih rendah dari seorang budak. Atas perintah Rama, Hanomanlah yang menjatuhkan hukuman keras pada dirinya. Itulah masa-masa pahit yang cukup disesalkannya.
            “Saya tidak percaya, kita bisa bertemu di sini, di alam ini,” ujar Sita sambil menatap Rahwana dalam-dalam. Keduanya dalam terpaku, dan bahkan beku seperti batu-batu dasar kali, tak bergeser sedikitpun dari tempatnya ketika diseret arus kali yang kuat ke hilir. Keduanya tenggelam dalam gejolak pikiran dan perasaan masing-masing. Setelah makanan dan minuman yang dipesan keduanya dihidangkan oleh dua orang pelayan, tanpa diminta Sita kembali membuka pembicaraannya.
“Ternyata kesetiaan saya pada Rama tidak ada artinya sama sekali,” ujar Sita keceplosan ngomong. Namun setelah berkata demikian perasaannya terasa ringan. Seakan-akan bebas dari segala himpitan beban batin yang menimpa dirinya selama ini. Kini perasaanya benar-benar ringan,bagai secuil kapas yang diterbangkan angin ke langit yang jauh. Langit yang penuh harapan. Langit yang ditujunya itu adalah langit yang sarat dengan cahaya kesejatian cinta.
“Maksudmu?”
“Rama tetap menuduh saya melakukan hubungan gelap dengan dirimu,  Rahwana. Untuk membuktikan apakah diri saya masih suci atau tidak, lalu diujinya saya. Saat itu saya harus melintasi kobaran api sepanjang tiga puluh ribu meter. Kobaran api yang disediakan Rama itu, demikian besar dan panas. Sampai-sampai dalam jarak lima puluh meter dari kobaran api tersebut ujung tombak para pegawai pun meleleh. Ujian yang berat itu aku hadapi dengan perasaan yang tenang. Aku menyerahkan diri pada Yang Maha Kuasa.”
“Syukurlah aku selamat. Tak ada satu pun bara api yang sanggup membakar pakaianku, apalagi tubuhku. Aku selamat,” tutur Sita, sambil menarik nafasnya pelan-pelan, dan kemudian dihembuskannya secara perlahan pula.
            “Setalah itu bagaimana?” Tanya Rahwana, penasaran. Rahwana tidak menyangka bahwa apa yang dialami oleh Sita bakal setragis itu.
            “Rama tetap tidak puas. Ia masih curiga padaku. Aku selamat, tuduhnya, karena diselamatkan oleh dewa-dewa dari khayangan yang jatuh cinta padaku. Terus terang mendapatkan tuduhan semacam itu—hatiku terasa pedih. Setelah itu aku lari, menyemplungkan diri kembali ke dalam kobaran api. Dalam kobaran api yang kedua itulah—aku berpikir, apa tidak lebih baik aku melupakan seluruh peristiwa tersebut dengan cara meninggalkan dunia teks pewayangan? Keputusan diambil, ada baiknya aku lari saja ke dunia nyata. Dunia manusia. Ah, seandainya kau tidak menculik diriku saat itu, tentu ceritanya akan lain. Terus terang hingga kini aku belum disentuh oleh Rama,” jelas Sita.
            Mendengar pengakuan Sita seperti itu, Rahwana merasa bahwa dirinya masih punya harapan untuk bisa menyunting Sita. Setiap perkataan Sita disimaknya dalam-dalam. Suara lembut yang mengalun dari bibir Sita itu didengarnya dengan telinga hatinya terdalam. Sesekalinya ditatapnya wajah Sita yang cantik itu, wajah yang mengalirkan desiran-desiran tertentu pada jantung dan perasaan Rahwana yang membuatnya mabuk kepayang. Dirinya seakan-akan tidak kuat lagi untuk menahan nafsu birahinya. Tapi demi hidup langgeng di muka bumi, ia hilangkan segala perasaan yang akan mengakibatkan bangkitnya nafsu buruk didalam kalbunya sendiri.

Meski umurnya sudah ratusan tahun, wajah Sita yang ada dihadapan dirinya itu tetap cantik. Masih segar dan bugar, seakan-akan baru menginjak umur 24 tahun. Malam semakin larut dan tua, dan Sita kemudian menyeruput segelas minuman yang dipesannya itu. Demikian juga Rahwana.
“Mengapa waktu itu kau menculik diriku? Apakah benar ketika kau menculik diriku pada saat itu- kau jatuh cinta padaku, ataukah karena nafsu semata?” Tanya Sita. Matanya menatap tajam wajah Rahwana. Rahwana memalingkan mukanya karena tidak kuat menahan nafsu dan malu sekaligus atas tingkah-lakunya sendiri di masa lampau.
“Dulu,” kata Rahwana, “ ketika aku menculikmu untuk pertama kalinya, terus terang karena nafsu. Tapi setelah kau kutawan dengan waktu yang cukup lama sehingga akhirnya Rama dan Hanoman membebaskan dirimu- perasaan yang sarat dengan nafsu birahi itu ; secara perlahan-lahan berubah menjadi rasa cinta dan kasih sayang. Sama seperti dirimu aku lari dunia teks perwayangan karena tidak kuat menanggung derita yang demikian menghimpit perasaanku. Derita yang kutanggung itu, bukan karena aku mendapat hukuman yang berat , tapi karena tidak kuat harus berpisah dengan dirimu, cintaku,” ujar Rahwana.
Sekali lagi, Sita terpana mendengar penjelasan Rahwana semacam itu. Lalu ditatapnya kedua bola mata Rahwana yang bercahaya oleh perasaan cinta. Keduanya saling tatap, beradu pandang. Seketika keduanya mendapatkan pencerahan spiritual. Perasaan keduanya menjadi tenang, bagai permukaan air laut tanpa gulungan ombak. “ Ada yang berubah dalam diri Rahwana,” batin Sita. Lalu Sita menundukan kepalanya. Tiba-tiba Sita merasa bahwa dirinya menemukan kesejatian cinta pada diri Rahwana dan bukannya pada Rama yang dulu pernah dicintainya secara mati-matian.
“Rahwana, apa arti cinta bagi dirimu?” Tanya Sita. Mendapat pertanyaan yang demikian, sesaat Rahwana gelagapan. Namun ia secepat itu harus mampu menguasai dirinya dengan tenang. Harus mampu berfikir jernih dengan hati yang wening.
“Cinta,” jawab Rahwana dengan suara agak tertahan yang diliputi oleh rasa malu,” tidak dijelaskan dengan kata-kata. Tapi saya bisa merasakannya. Yang jelas, kalau engkau setuju, saya ingin melamarmu hari ini juga. Mari kita lupakan masa lampau yang kelam itu. Mari kita bangun dunia baru dengan matahari yang baru. Cinta bagi saya, adalah persatuan dua jiwa dua sukma tanpa sedikitpun keduanya mengalami hati yang luka. Jika pun ada luka yang saling menghancurkan perasaan masing-masing, tapi luka yang saling menunjukan arah dan jalan pada kebaikan hidup yang kelak kita tempuh kemuka. Sita, apakah kau siap menerima diriku?”
Ya!”
“Walau saya tidak punya kekuasaan apapun?
Ya!”
“Sekarang di muka bumi ini saya tidak lebih dari rakyat, hanya rakyat. Saya bekerja jadi Wartawan. Kadang-kadang meliput pertunjukan teater, seni lukis dan acara-acara di CCF di bandung atau di GK. Rumentang Siang dan di TM Jakarta. Kadang-kadang meliput berbagai peristiwa siding criminal di PN Bandung. O, ya, kau sendiri bagaimana?
“Saya?”
“Ya!”
“Saya sekarang mengajar di FSRD Taman Sari, Jurusan Seni Murni. Saya mengajar teori seni, sejarah seni dan filsafat seni. Sudahlah kita tunda dulu tentang identitas kita masing-masing. Saya ingin bertanya padamu lebih jauh, apa yang kau maksud dengan cinta itu? Terus terang, saya bisa menerima sekaligus memahami perasaanmu. Tapi tolonglah saya beri pemahaman lebih jauh lagi tentang cinta. Tapi sebelum kau menjawab pertanyaanku, ada baiknya kita makan dulu. Sayang kalau makanan yang kita pesan dingin sudah,” ujar Sita sambil meremas tangan Rahwana.
Diremas tangannya seperti itu, Rahwana nyaris tidak percaya. Didalam hatinya tiba-tiba terdapat sehamparan kebun bunga yang tumbuh dan berkembang dengan  amat suburnya. Burung-burung disitu menyanyi merdu, dan sejumlah kupu-kupu tiada henti hilir mudik kesana kemari.
“Ya, sebaiknya kita makan dulu,” jawab Rahwana, tangkas dan tegas.

SEUSAI makan malam, dan bercakap itu ini, Sita dan Rahwana segera meninggalkan café tersebut. Dihalaman parkir, sebelum Sita masuk kedalam mobil yang dikemudikannya sendiri, Sita kembali meminta Rahwana agar dirinya segera mengemukakan pendapatnya tentang cinta itu. Alasannya, Sita tidak ingin menghadapi hidup yang kedua penuh dengan rasa kecewa.
“Ya, bicaralah. Aku akan mendengarnya dengan sesungguh hati!” jawab Sita.
“Baiklah. Dengarkanlah baik-baik. Cinta adalah setangkai bunga bakung/ yang dipangkas orang dari tangkainya/ bunga itu akan layu.// kini jiwaku yang kayu itu/ yang terpisah dari hidupmu itu/ mendadak mekar.// mendadak punya akar tertanam ke tanah/ Engkaulah tanah itu cintaku,” jelas Rahwana.
Mendengar jawaban semacam itu, Sita merasa bahagia. Belum pernah Sita mendengar kata-kata seindah itu. Ia tidak pernah mendengar omongan yang demikian menggetarkan jiwanya itu diucap oleh Rama, sekalipun memang Rama pada saat-saat pacaran dengan Sita bersikap lembut pula.
“Terima kasih Rahwana. Kini aku yakin dengan keteguhan hatimu mencintai diriku. Tapi untuk sementara berilah aku waktu yang cukup luang. Aku akan berfikir lebih jahu lagi, apakah aku akan segera menerima lamaranmu atau tidak? Aku harus berfikir masak-masak tentang hal ini. Soalnya kita hidup dalam ikatan perkawinan bukan untuk waktu sehari atau dua hari saja. Tapi untuk ratusan bahkan ribuan tahun kedepan. Aku sendiri kini bukan lagi pantai yang indah,” papar Sita.
“Saya Mengerti. Demikian pula saya. Saya bukan pula langit yang bersih. Pengalaman saya di masa lampau sarat dengan noda kehidupan. Sita, aku merasa bahagia walau kau baru berucap menerima cinta saya-dan belum memutuskan kelak kau menerima lamaran saya atau tidak,” jawab Rahwana. Keduanya lalu bersalaman, dan bahkan berpelukan. Sita masuk ke dalam mobil yang dibawanya sendiri,sementara Rahwana menolak diajak pulang bersama. Alasannya masih ada keperluan lainnya, yang harus diliputnya. Sesaat kemudian mobil yang ditumpangi Sita lenyap di belokan sana. Rahwana kemudian jalan kaki meninggalkan pelataran parkir tersebut. Angin malam bertiup dengan amat kencangnya hingga daun-daun berguguran sepanjang Jalan Dago yang sunyi dan sepi pada malam itu.
Di langit sana bulan masih bercahaya dengan amat terangnya. Satu dua mobil yang melintas di situ meninggalkan gema berkepanjangan. Tidak jauh dari tempat sampah, tiba-tiba Rahwana dicegat oleh seorang lelaki dengan kepala ditutup kupluk, ala ninja, lelaki itu tanpa basa-basi menusukan senjata tajam yang digenggamnya ke arah dada Rahwana. Sesaat Rahwana bisa berkelit, tapi tak urung senjata tersebut bersarang pada perut lainnya. Rahwana mengerang kesakitan. Ia menyesal ketika lari ke dunia nyata pada saat itu, segala kesakitan yang dipunyainya dimusnahkannya. Tidak puas dengan tikaman tersebut, si lelaki berdarah dingin itu-kembali menikamkan senjata yang sarat dengan denda itu berulang-ulang ke arah dada Rahwana hingga darah segar membasahi sebagian badan Jalan Dago yang dilalui Rahwana. Sesaat kemudian Rahwana tersungkur. Lelaki yang berpakaian ala ninja itu kemudia lari-setelah yakin korbannya tengah merengang nyawa. Rahwana sempat melihat kearah mana lelaki pengecut itu lari. Ternyata ia lari kedalam lembaran komik wayang klasik yang ada di tempat pembuangan sampah. Komik itu separuh dari tebal bukunya sudah termakan apai. Komik perwayangan karangan Adipati Godi Suwarna itu berjudul Legenda Rama & Sita.
“Sejak dulu engkau memang pengecut. Untuk mengambil Sita dari tanganku, engkau menggunakan tangan Hanoman. Siapa lagi kalau bukan engkau yang bersikap culas seperti ini?” desah Rahwana sesaat sebelum nyawanya dicabut oleh malaikat maut.
Cahaya bulan masih terang dilangit sana. Sesaat kemudian harum kembang cempaka dan melati memenuhi udara. Dari ketinggian langit sana turun bidadari menyambut nyawa Rahwana yang terbang ke langit. Nyawa yang bebas dari segala nafsu jahat di muka bumi. Nyawa yang bahagia menerima rasa cinta dan kasih sayang dari Sita.
Sementara itu delapan kilo dari tempat kejadian, dirumahnya, Sita tak habis-habisnya berfikir; mengapa dirinya bisa bertemu dengan Rahwana? Ada perasaan bahagia yang akan segera dibawanya ke alam mimpi. Saat itu, Sita berharap hari akan segera siang. Ia ingin benar bertemu dengan Rahwana disuatu tempat yang lebih romantic. Dimana keduanya bisa mengutarakan perasaannya masing-masing secara lebih transparan.
Sita, Sita! Rahmat atau bencana benih cinta yang kutanggung ini,” ujar Rahwana seiring perjalanan nyawanya meninggalkan jasad kasarnya.***
2 maret-10 juli 1998

*Cerpen ini diambil dari buku "Di ranjangmu aku tahu aku mati"
*catatan lain: cerpen ini telah berhasil dialihwahanakan oleh saya dan kemudian dijadikan opera oleh Anissa Prasetya N selaku sutradara Pementasan Tangis Rahwana pada tanggal 13 Mei 2013.

No comments:

Post a Comment