herlangga juniarko

Powered By Blogger
Showing posts with label Soni Farid Maulana. Show all posts
Showing posts with label Soni Farid Maulana. Show all posts

Wednesday, December 1, 2021

Tangis Rahwana

terpisah dari tangkai cintamu
mengapa jiwaku
seperti damar padam
di tengah malam buta?

lebih subur dari sehampar rumputan
yang tumbuh di tegalan;
Sita, belahan hidupku, rahmat atau kutukkah
benih cinta yang rimbun menghijau di dada?

jika kehendak Dewata
mengapa pertemuan dan perpisahan
sungguh duri di hati? O, Hanoman,
duta agung Sri Rama
apa kuasamu menghukum diriku

seperti ini? Sungguh sedikit pun
tidak aku takuti kematian datang menjelang
selain sesal yang dalam; mengapa aku
harus berpisah dengan mawar cintaku

malam alangkah dingin
hingga ke tulang


1986
Soni Farid Maulana
*diambil dari Antologi Puisi "Sehampar Kabut"



Monday, October 14, 2013

Tangis Rahwana

oleh: Soni Farid Maulana

terpisah dari tangkai cintamu
mengapa jiwaku
seperti damar padam
di tengah malam buta?

lebih subur dari sehampar rumputan
yang tumbuh di tegalan;
Sita, belahan hidupku, rahmat atau kutukkah
benih cinta yang rimbun menghijau di dada?

jika kehandak Dewata
mengapa pertemuan dan perpisahan
sungguh duri di hati? O, Hanoman,
duta agung Sri Rama
apa kuasamu menghukum diriku

seperti ini? Sungguh sedikit pun
tidak aku takuti kematian datang menjelang
selain sesal yang dalam; mengapa aku
harus berpisah dengan mawar cintaku

malam alangkah dingin
hingga ke tulang


1986
*diambil dari antologi puisi "Sehampar Kabut"

Monday, May 20, 2013

Tangis Rahwana


oleh: Soni Farid Maulana

SUNGGUH tak pernah saya duga,kita bertemu disini – setelah berpisah ratusan tahun, bahkan ribuan tahun lalu. Sungguh tak pernah saya duga; kita bertemu dalam suasana yang sangat berbeda dengan apa yang pernah terjadi di masa lampau. Sita, apa kabar selama ini?” ujar Rahwana,yang secara kebetulan malam itu dirinya bertemu dengan Sita pada sebuah café di bilangan Bukit Dago Utara, di penghujung Abad 20.
Saat ini sesungguhnya Rahwana ragu-ragu menyapa seorang perempuan yang ada di hadapan dirinya. Perempuan tersebut baru saja turun dari sebuah kendaran roda empat yang dikemudikannya sendiri. Rahwana yakin, bahwa perempuan yang disapanya itu : Sita. Sita yang ditatap dan ditanya Rahwana seperti itu, hanya bengong. Ia berfikir keras-mencoba mengingat-ngingat lagi segala apa yang dialaminya di masa lampau, apa pernah ia bertemu dengan seorang lelaki yang kini menyapa dirinya?

Wednesday, March 6, 2013

Lingkaran Bulan


- Untuk Sita

oleh: Soni Farid Maulana

Ya, memang jarak dan bahasa memisah kita
Tapi rinduku padamu adalah hembusan angin
Yang berdesau dan berdesau
Dari dahan ke dahan cemara. Mengalir dan berdesir

Mencari keteduhan hatimu. Malam alangkah dingin
Di sini. Suara kendaraan menghilang dalam
Pendengaran, tiang listrik dipukul orang: -- bunyinya
Menggema dalam batinku, mengekalkan kerinduanku
Padamu

Malam alangkah kelam
Maut yang bengis bertudung kian hitam.
Masih kuingat di tepi telaga di Alengka

Hangat desah nafasmu yang lembut
mengguncang perasaanku yang dalam
tanpa jarak dan bahasa


1997

*diambil dari salah satu cerpen di buku antologi "Di Ranjangmu Aku Tahu Aku Mati"

Wednesday, December 19, 2012

Nasihat Malin Kundang

oleh: Soni Farid Maulana

"betapa mudah jadi penyair di negeri ini,"
ujar Malin Kundang sambil mengunyah kacang goreng,
sebelum seteguk kopi di sebuah café yang ramai
dikunjungi calon penyair, yang berkali-kali
kiriman sajaknya ditolak oleh berbagai media massa cetak.

"siapa bilang? Kalau gampang, tolong beri tahu aku
bagaimana caranya?" tanya seorang calon penyair,
yang mulai mahir nenggak wine dan bergelas-gelas bir.

"bikin jurnal," jawab Malin Kundang
sambil terus berkata, "tarik sejumlah kritikus,
juga penyair senior sebagai redaktur. Tiap terbit
kau bisa memuat sajak-sajakmu di situ. Bukan
hanya sajak, tapi juga esaimu.

setiap orang yang mengritik dirimu, jangan ragu
kau tolak sajak dan esai mereka di jurnalmu,"
jelas Malin Kundang, diseling batuk tiga kali.

"Yes! Itu ide cemerlang. Aku mau
jadi pemrednya. Aku jadikan jurnalku
laboratorium sastra. Aku jadikan diriku
tukang kebun kata-kata di negeri ini," ujar
calon penyair sambil mengusap-ngusap
kepalanya, dengan potongan rambut
yang cepak ala tentara


2000
*dari Antologi "Variasi Parijs van Java"

Wednesday, December 12, 2012

Envoi

oleh: Soni Farid Maulana

akhirnya kau temukan aku meninggal
dalam pangkuan malaikat maut yang menangis
di arah kiblat. Ingin aku bertanya, apa yang kau
temukan di kamar tidurku yang berantakan
diporak-porandakan badai minuman keras?
Keduniawian adalah minuman keras bagiku

aku tahu, hanya kebisuan yang menyemak
dalam rongga dadamu. Pada hematku aku merasa
lebih baik di tempat di mana aku berada sekarang
meski aku belum tahu arah mana yang akan kujelang,
kiri atau kanan.

ditinggalkan atau meninggalkan
adalah jam kematian yang tak bisa ditangguhkan
laju detiknya. Kopor-kopor doa yang kau siapkan
untukku; itu lebih baik -daripada kau- sibuk
menenggelamkan diri dalam palung airmata
yang kelam


2006
*dari antologi puisi "Angsana"

Friday, December 7, 2012

Kau

oleh: Soni Farid Maulana

angsana dan gandasoli
yang kau tanam di pekarangan hatiku
tumbuh sudah dengan daun-daunnya yang lebat.
kau bilang,
jika kedua tanaman itu tumbuh subur
itu artinya: cinta kita memuncak
mendaki puting gairah seindah bulan merah.

kini kau dimana? Hanya desir angin
dan guguran dedaunan di pekarangan hatiku
diiringi bebunyian serangga,
sebelum tiba
musim penghujan.

langit kosong dan sepi
seperti sumur tua yang ditinggalkan
dengan sisa air yang nyaris kering
diteguk garang kemarau
yang menghanguskan
akar rumputan.

lalu api sunyi berkobar
dari gerbang langit tak dikenal
menjilat dan membakar angsana
dan gandasoli,
yang dulu kau tanam
di pekarangan hatiku, pada sebuah pagi
yang diberkahi cahaya matahari
dan kicau burung dari syair attar,
hafiz dan sana'i. Cintaku,

kau dimana ketika rindu
menyemak di dada
ketika ajal melepas kata
dalam dadaku.


2002
*dari antologi puisi "Angsana"

Friday, September 28, 2012

Teratai


oleh: Soni Farid Maulana
 
      ada teratai biru mekar di kedalaman.
teratai ini teratai hatiku, untukmu. Ia
lebih biru dari inti api yang bukan api.
seandainya kau melihatnya malam hari,
ketika cahaya bulan menyentuh miring:
-- kau akan berkata, “semekar itukah
rindumu kepadaku?” Ya. Segairah itu pula:
-- ajal, sang mempelai, menantiku
di ranjang waktu.

      teratai ini, teratai yang lain, cintaku. Ia
lebih wangi dari kembang kabung,
lebih bersinar dari cahaya matahari,
lebih redup dari kilau matamu, ketika perlahan
terpejam di sisiku. Dalam pelukanku. O, maut
datang dan pergi bagai dentang jam.


2009