herlangga juniarko

Powered By Blogger
Showing posts with label Pringadi Abdi. Show all posts
Showing posts with label Pringadi Abdi. Show all posts

Friday, July 23, 2021

Aku Tua & Aku Cinta Twice

Banyak penyair milenial, tapi puisi-puisi
masih tentang angin dan hujan. Padahal
K-Pop lebih mencengangkan. Lagu & tarian
Gadis-gadis muda diidolakan, dan di sana
Kita saksikan hidup begitu mulus, begitu
sempurna: semuanya indah dan baik-baik saja

Setiap berdiri di depan kaca, aku yang tua
akan menyalakan Youtube. Kutonton grup,
Twice namanya. Wajah-wajah mereka
Tak pernah menua. Senyum mengembang,
Lalu mereka berdendang. Bergoyang.

Cirit… Cirit… Cirit… Aku tak tahu artinya
Tapi tampaknya menyenangkan

Sejenak lupakan, negara pernah memaksa rakyatnya 
Antre sembako. Dan kini berwacana pajak sembako.

Melihat lagi kulit-kulit cerah yang tak pernah
Terbakar matahari. Mata indah, tak pernah merah
Menangis kehilangan tanah dan rumah.

Duh, aku tua & aku cinta Twice
Hidup sendiri dan mampu merasa puas.


2021
Pringadi Abdi
*diambil dari Instagram Story Pringadi Abdi



Wednesday, March 17, 2021

Angin

Tidak pernah kusangka
Angin adalah seorang pria
Ia bisa bergairah
Melihat celana dalam
Dan hanya dalam waktu satu jam
Perempuan hamil tiba-tiba

Angin itu bisa lebih jantan
Dari Fiki Naki
Tanpa perlu belajar lima bahasa
Duduk di depan layar OME TV
Ia bisa menggagahi 
Dayana-Dayana
Tanpa ketahuan sama sekali

Seandainya mau, ia bisa bikin akun Youtube
Cheat Kode, dalam 1 hari lebih 1 juta Sub

Di sana, ia akan belajar 
menyebar kabar angin
Informasi-informasi yang susah dipercaya
Namun dipercaya

Sambil menunggu tahun 2024
Dan bikin merk mobil baru
Buatan anak negeri, tanpa pengenaan pajak
Jangan lupa bangun juga toko martabak.

Dengan begitu, ratusan juta kita
Akan punya pemimpin
Meski wujudnya tidak kelihatan


2021



Monday, March 26, 2018

Di Selat Alas Kau Berjanji Menikam Seseorang

Oleh: Pringadi Abdi

ini tidak mungkin dipercaya, jarak sepuluh kilometer antara 
lombok dan sumbawa dapat memicu kematian

seseorang dapat ditikam, didorong ke laut lalu tenggelam
orang-orang tidak akan tahu, mereka lebih suka memikirkan
harga daging sapi, seikat kangkung, kelangkaan ikan
pada bulan purnama, juga ombak dan cuaca barat siwa
daripada negara, ketua KPK, penumpang yang terlantar di bandara 
apalagi hanya mayat, yang tak memiliki hubungan kerabat

di situlah, kadang-kadang aku merasa sedih
teringat pesan singkatmu semalam, kita tak memiliki masa silam
padahal udara pernah sangat kejam. aku ingin berteriak
tapi dadaku dibuatnya sesak, hidupku dibuatnya terisak 

terserah, bila kapal ini bernasib seperti munawar, lalu aku terdampar
melihat bekas pulau kenawa yang terbakar, dan baru
ditumbuhi belukar, aku pasrah, tetapi bukan aku yang mati

karena belum kusampaikan kata-kata yang sudah lama
menjadi bantal dalam tidurku, sambil membayangkan adegan di pasar
ketika aku tertipu, ingin membeli cumi tapi diberi gurita
itu membuatku tak terima, kau membuatku mengira
kau telah jatuh cinta padaku selama-lamanya

kepalsuan itulah yang membuatku ragu pada wanita mana saja
juga jarak mana saja, karena jarak sepuluh kilometer ini
harus kutempuh dua jam lebih lamanya, sementara
sepuluh kilometer yang lain hanya membutuhkan waktu sepuluh menit! 

5 Maret 2018


*puisi ini diambil dari Kompasiana Pringadi Abdi Surya

Thursday, March 3, 2016

Mi Querido

oleh: Pringadi Abdi


- "Jika cinta tak dapat dimiliki, mungkin memang seharusnya kita membuangnya jauh-jauh. Membuangnya ke tempat yang terdalam" -
 
Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran. Padahal kau (begitu pun aku) telah sama-sama jatuh cinta pada Braga yang menguapkan segala kekakuan kota. Kekakuanmu. Kekakuanku. Kekakuan segala tetek bengek rumus matematika dan fisika di kelas-kelas jam tujuh pagi. De Gauss gila. Descartes yang sia-sia. Cinta. Ah, aku padamu bagai dahan pohon cemara, ditepuk angin, dan benarlah Chairil itu, hidup hanya menunda kekalahan.

“Katakanlah...”

“Apa?”

“Yang seharusnya ingin kau katakan.”

Padahal aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak ingin membiarkan segala huruf berloncatan dan meledekku dari kejauhan, kemudian udara dingin menggigilkanku lewat sela sweater yang kukenakan (meski berlapis), menatap matamu dan api menyala-nyala di dalamnya seolah Patuha siap menyemburkan lahar yang mati, tetapi yang kurindukan tetaplah hangatnya pelukanmu.

“Jangan sentuh aku lagi...aku tidak mau tanganmu yang memiliki bekas perempuan lain.” Tambahmu marah. Tetapi wajahmu tenang-tenang saja sambil menyuap lembutnya es krim yang pertama kali kukenalkan kepadamu, ketika hujan rintik-rintik dan kita terbiar di atas kedua belah kaki, tak berpayung, dan berlari-lari kecil seolah dikejar kecemasan. “Aku takut gerimis...” begitu kau bilang kepadaku kala itu. Aku pun hanya bisa menangkupkan jaketku ke atas kepalamu dan kau tersenyum manis dengan lesung pipitmu itu.

“Aku masih mencintaimu, Lin....”

“Dan kau mencintainya juga?”