herlangga juniarko

Powered By Blogger

Friday, July 23, 2021

Aku Tua & Aku Cinta Twice

Banyak penyair milenial, tapi puisi-puisi
masih tentang angin dan hujan. Padahal
K-Pop lebih mencengangkan. Lagu & tarian
Gadis-gadis muda diidolakan, dan di sana
Kita saksikan hidup begitu mulus, begitu
sempurna: semuanya indah dan baik-baik saja

Setiap berdiri di depan kaca, aku yang tua
akan menyalakan Youtube. Kutonton grup,
Twice namanya. Wajah-wajah mereka
Tak pernah menua. Senyum mengembang,
Lalu mereka berdendang. Bergoyang.

Cirit… Cirit… Cirit… Aku tak tahu artinya
Tapi tampaknya menyenangkan

Sejenak lupakan, negara pernah memaksa rakyatnya 
Antre sembako. Dan kini berwacana pajak sembako.

Melihat lagi kulit-kulit cerah yang tak pernah
Terbakar matahari. Mata indah, tak pernah merah
Menangis kehilangan tanah dan rumah.

Duh, aku tua & aku cinta Twice
Hidup sendiri dan mampu merasa puas.


2021
Pringadi Abdi
*diambil dari Instagram Story Pringadi Abdi



Monday, July 19, 2021

Pada Kota yang Mengibun Karena Kenangan

Pada kota yang mengibun karena kenangan
Bagiku kini hanya jarak antara ujung timur ke dinginnya utara
Kulihat matamu masih jalanan tanpa nama
Berselimut kenangan tak terduga

Kau tahu, saat kau meriak sepi
Aku di titik pertama,
Ketika kau bertamu dan mengucap salam
Sejujurnya, sepi juga menyerang di sepanjang ingatan
Tapi ku tak tahan melawan khayalan

Bisu barangkali sudah suratan kau dan aku
Serupa toko kelontong yang tutup selepas malam
Tanpa ada bisikan yang mengerang
Ah Puan, masihkah aku persinggahan?


Setiabudi, 23 Juni 2021
Abdillah Al-hafizh, Faisal Abdul Rauf,
Herlangga Juniarko, & Tri Cahyana Nugraha


Saturday, July 17, 2021

Jika Malam Terlalu Dalam

Di kota ini orang-orang bersekongkol ingin menghapusku. Mereka tidak pernah bisa mengeja namaku dengan benar. Aku harus mengenakan nama entah siapa ke mana-mana. Berganti-ganti. Mengubah hari-hariku menjadi tempat persembunyian. Hidupku bagai penyamaran yang takut terungkap. Di luar ingatan, tiada yang nyata.

Datanglah. Datanglah sekali lagi. Kembalikan aku kedalam tubuhku. Aku ingin tetap mencintamu dengan nama yang sama. Bunyi yang bergetar pelan seperti nyanyian pengantar tidur di lidahmu.

Atau, jika malam terlalu dalam menyepikan kau dan jarak terlalu jauh menepikan aku, bisikkan namaku sebagai permintaan. Di luar harapan, tiada yang pasti. Tiada.


Aan Mansyur
*diambil dari antologi puisi "Tidak Ada New York Hari Ini"