herlangga juniarko

Powered By Blogger
Showing posts with label Sapardi Djoko Damono. Show all posts
Showing posts with label Sapardi Djoko Damono. Show all posts

Sunday, June 28, 2026

Mata Pisau

mata pisau itu tak berkejap menatapmu; 
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu


1971
Sapardi Djoko Damono
*diambil dari antologi puisi "Hujan Bulan Juni"


Tuesday, March 18, 2025

Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


1989
Sapardi Djoko Damono
*diambil dari Antologi Puisi "Hujan Bulan Juni"


Sunday, July 19, 2020

Pada Suatu Hari Nanti

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau tak akan letih-letihnya kucari


1991
Sapardi Djoko Damono

*diambil dari "Hujan Bulan Juni"
** saya simpan puisi ini sebagai kenangan bahwa hari ini 19 Juli 2020 beliau telah melepaskan diri dari kefanaan dan menjadi abadi
Terimakasih dan selamat tinggal, Pak Sapardi. 

Wednesday, September 5, 2018

Mula Batu, 1

oleh: Sapardi Djoko Damono

1

sejak itu kita berjanji untuk beriman pada kata

sejak itu kita ciptakan dewa
yang tak pernah terpejam matanya
yang tak pernah tertutup telinganya
yang selalu menuding telunjuknya
yang memaksa kita mendengar dan mengucapkan
satu-satunya kata

sejak itu kita berjanji untuk beriman pada kata
agar ada yang mengawasi kita
ketika naik-turun bukit
ketika masuk-keluar gua

kita beri tanda pohon demi pohon
agar bisa kita tafsirkan padanannya
kita beri nama hewan-hewan
yang sejak mula berkerumun di sekitar
agar pada suatu hari kelak
ketika langit seperti debu arang
ketika terjadi banjir besar bisa mendengar gema syiar di hutan-
       hutan dan sepasang demi sepasang dengan
       patuh naik ke perahu
agar pada suatu saat yang sudah disiratkan mencapai
     sebuah bukit yang sudah tersurat namanya

kita pun merentangkan jarak
kita pun merentangkan waktu
kita pun melipat jarak
kita pun memapatkan waktu
lalu kita bentur-benturkan keduanya agar bepercikan
       warna dan berdenting suara dan kenangan dan cinta
       dan remah-remah segala yang pernah keluar-masuk
       mimpi kita
dan kita bentur-benturkan keduanya agar melesat kembali
       dari kobaran api bersama sunyi-senyap-sepi yang
       mulai rontok sayap-sayapnya

kita suratkan babad batu ini


*diambil dari kumpulan sajak "Babad Batu"




Thursday, June 27, 2013

Hawa Dingin

oleh: Sapardi Djoko Damono


dingin malam memang tak pernah mau
menegurmu, dan membiarkanmu telanjang;
berdiri saja ia di sudut itu
dan membentakku, “Ia hanya bayang-bayang!”

“Bukan, ia tulang rusukku,” sahutku
sambil menyaksikannya mendadak menyebar
ke seluruh kamar — yang tersisa tinggal abu
sesudah kita berdua habis terbakar.


*diambil dari antologi puisi "Ayat-ayat Api"

Wednesday, June 26, 2013

Ayat-ayat Tokyo

oleh: Sapardi Djoko Damono


/1/
angin memahatkan tiga patah kata
di kelopak sakura —
ada yang diam-diam membacanya

/2/
ada kuntum melayang jatuh
air tergelincir dari payung itu;
“kita bergegas,” katanya

/3/
kita pandang daun bermunculan
kita pandang bunga berguguran
kita diam: berpandangan

/4/
kemarin tak berpangkal, besok tak berujung —
tak tahu mesti ke mana
angin menyambar bunga gugur itu

/5/
lengking sakura —
tapi angin tuli
dan langit buta

/6/
menjelma burung gereja
menghirup langit dalam-dalam —
angin musim semi


*diambil dari antologi puisi "Ayat-ayat Api" karya Sapardi Djoko Damono

Friday, June 21, 2013

Analisis Struktural Puisi “Ayat-ayat Kyoto” Karya Sapardi Djoko Damono

oleh: Herlangga Juniarko

            Sajak merupakan struktur. Struktur di sini merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan timbal balik, saling menentukan. Ada tiga dasar rangkaian keasatuan, yaitu ide kesatuan, ide transformasi, dan ide pengaturan diri sendiri.
            Pertama, struktur itu merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagiannya yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Kedua, struktur itu berisi gagasa transformasi dalam arti struktur itu tidak statis. Ketiga, struktur itu mengatur dirinya sendiri, dalam arti struktur itu tidak memerlukan pertolongan bantuna dari luar dirinya untuk mensahkan prosedur transformasinya.
            Analisis struktur sajak adalah analisis sajak ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya dalam struktur sajak dan penguraian bahwa tiap unsur itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dalam struktur. Sajak itu merupakan susunan keseluruhan yang utuh, yang bagian-bagian atau unsur-unsurnya saling erat berkaitan dan saling menentukan maknanya.
            Penganalisisan struktural lebih melihat makna dari setiap unsur lalu menghubungkannya dengan unsur-unsur pembentuknya yang lain sehingga dapat ditemukan makna inti dari sebuah karya sastra.
            Di bawah ini akan disajikan sebuah puisi yang dianalisis berdasarkan pendekatan struktural.
 
Ayat-Ayat Kyoto

segala yang mendidih dalam kepala
tidak nyata, kecuali sakura
dan kau — tentu saja

gerimis musim semi —
tengkorakku retak;
kau pun menetes-netes ke otak

kita sakura —
gugur sebelum musim semi
tak terlacak pula

(Sapardi Djoko Damono, Ayat-ayat Api)

Tuesday, December 18, 2012

Ayat-ayat Kyoto

oleh: Sapardi Djoko Damono

/1/
segala yang mendidih dalam kepala
tidak nyata, kecuali sakura
dan kau — tentu saja

/2/
gerimis musim semi —
tengkorakku retak;
kau pun menetes-netes ke otak

/3/
kita sakura —
gugur sebelum musim semi
tak terlacak pula


*dari Antologi "Ayat-ayat Api"

Friday, November 23, 2012

Sajak Nopember

oleh: Sapardi Djoko Damono

Siapa yang akan berbicara untuk kami
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur
yang berjejal
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental

tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan
siapa yang akan berbicara atas nama kami
yang berjejal dalam kubur

bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami
siapa yang bisa paham makna kehendak kami

kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
tanpa dicatat namanya
kepada Ibu yang lebih besar dan agung :
ialah Tanah Air

kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
untuk pergi lebih dahulu

Friday, August 10, 2012

Kami Bertiga

dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata –
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata


Sapardi Djoko Damono
(Hujan Bulan Juni)

Thursday, June 7, 2012

Hujan Bulan Juni

oleh: Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


1990