herlangga juniarko

Powered By Blogger

Thursday, June 27, 2013

Hawa Dingin

oleh: Sapardi Djoko Damono


dingin malam memang tak pernah mau
menegurmu, dan membiarkanmu telanjang;
berdiri saja ia di sudut itu
dan membentakku, “Ia hanya bayang-bayang!”

“Bukan, ia tulang rusukku,” sahutku
sambil menyaksikannya mendadak menyebar
ke seluruh kamar — yang tersisa tinggal abu
sesudah kita berdua habis terbakar.


*diambil dari antologi puisi "Ayat-ayat Api"

No comments:

Post a Comment