oleh: Acep Zamzam Noor
Kulihat jemarimu yang lentik, dan kusaksikan di langit
Arakan awan mengirimkan senja yang lain
Ke arah kita. Ada warna merah, warna biru yang pupus
Bongkahan-bongkahan kelabu yang melayang jauh
Dari jendela, kulihat sungai Siene yang membelah kota
Dengan jembatan-jembatannya yang penuh ukiran
Seperti rambut ikalmu. Lalu dari puncak apartemen tinggi
Kita berloncatan, meliuk-liuk dan berteriak di udara:
Senja pecah menjadi ribuan isyarat sunyi
Yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai hasrat
Atau niat tersembunyi untuk bunuh diri
Masih kuingat tarian perutmu, dan kubayangkan sosokmu
Yang ramping, rautmu yang runcing, dengan alis Aljazairmu
Yang menikam seorang penyair. Di gerbong kereta api
Di sepanjang terowongan yang menembus tubuh tua kota ini
Ada yang menggelepar karena kehilangan kata-kata
Ketika sunyi menyediakan sebuah beranda merah muda
Yang bernama kebisuan. Lalu apakah arti percakapan kita
Showing posts with label Acep Zamzam Noor. Show all posts
Showing posts with label Acep Zamzam Noor. Show all posts
Saturday, February 22, 2014
Friday, October 11, 2013
Analisis Puisi "Kupu-kupu" Karya Acep Zamzam Noor
oleh: Acep Zamzam Noor
Selembar daun kering
Jatuh sudah. Dan taman tersenyum
Bunga-bunga mengangguk di sekitarnya
Sebutir embun (mungkin air mata)
Di punggung daun yang jatuh
Menjadi doa. Kupu-kupu terbang entah ke mana
*diambil dari Antologi puisi "Tulisan pada Tembok, 2011"
Analisa
Aspek Sintaksis
Judul puisi “Kupu-kupu” ini terdiri dari satu kata. “Kupu-kupu” yang menjadi judul dari puisi ini merupakan
simbol utama dalam terbentuknya puisi ini.
Monday, July 8, 2013
Nokturno
oleh: Acep Zamzam Noor
Untukmu kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan musik yang tenang kulayari gelombang pasang
Kau tahu, betapa hening bunyi yang diciptakannya
Berdenting, mengetuk-ngetuk lantai dan dinding
Betapa nyaring! Betapa runcing percik-percik airnya
Untukmu kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan penuh kekhusukan kudaki nada-nada tinggi
Lalu menukik ke dalam semadi, menyelam ke lubuk sepi
Kau tahu, kekasihku, rindu ialah napas syair-syairku
Ialah gitar yang kugaruki sepanjang waktu
Ialah musik improvisasi, yang iramanya berasal dari lubuk hatiku
Ialah samudera luas yang ikan-ikan serta camar-camarnya liar
Ialah deru angin sakal, yang menghantam layar dan buritan
Ialah gemuruh biru, yang gemanya bersahutan dalam dadaku
Yang menggedor-gedor dinding beku. Aku cinta padamu
*diambil dari Antologi puisi "Tulisan Pada Tembok"
Untukmu kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan musik yang tenang kulayari gelombang pasang
Kau tahu, betapa hening bunyi yang diciptakannya
Berdenting, mengetuk-ngetuk lantai dan dinding
Betapa nyaring! Betapa runcing percik-percik airnya
Untukmu kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan penuh kekhusukan kudaki nada-nada tinggi
Lalu menukik ke dalam semadi, menyelam ke lubuk sepi
Kau tahu, kekasihku, rindu ialah napas syair-syairku
Ialah gitar yang kugaruki sepanjang waktu
Ialah musik improvisasi, yang iramanya berasal dari lubuk hatiku
Ialah samudera luas yang ikan-ikan serta camar-camarnya liar
Ialah deru angin sakal, yang menghantam layar dan buritan
Ialah gemuruh biru, yang gemanya bersahutan dalam dadaku
Yang menggedor-gedor dinding beku. Aku cinta padamu
*diambil dari Antologi puisi "Tulisan Pada Tembok"
Thursday, January 10, 2013
Di Malioboro
oleh: Acep Zamzam Noor
Di antara kereta yang beranjak ke timur
Serta jerit peluit yang masih tersisa di telinga
Udara seperti bergetar meski hujan telah lama reda
Kita berjalan ke luar meninggalkan deretan bangku itu
Dan segera nampak aspal yang mengkilat, trotoar yang bersih
Juga bentangan rel yang ujungnya menghilang ditelan gelap
Kau sedikit sempoyongan menghirup candu kata-kataku
Sedang wajahku membiru oleh kalimat-kalimat tanggung
Dari cerita pendek yang tak kunjung kauselesaikan
Di sebuah warung segalanya menjadi lebih terbuka
Seperti majalah lama. Aku mengingat kembali namamu
Mencatat alamatmu, menghitung tahi lalatmu dan membaca
Isyaratmu. Gambar kupu-kupu hijau di atas payudaramu
Membuatku paham bahwa kau memang keturunan peri
Bahwa parasmu cantik sekali. Mungkin pelipismu tak serata
Jembatan yang menyatukan patahan garis di lengkung alis mata
Namun rambutmu yang segimbal musim hujan, serimbun ucapan
Telah membuat napasku menjadi begitu tidak keruan
Kau menciumku seperti gempa bumi yang pelan dan sopan
Lalu aku membalas ciumanmu layaknya tanah kerontang
Yang diberkati hujan. Rasa tembaga kucecap dari bibirmu
Seperti asin darah yang bercampur dengan buih-buih ludah
Aku menelan semuanya bagaikan menelan setiap peristiwa
Dalam kehidupan. Tapi di sebuah warung yang terbuka
Di majalah lama yang mulai sobek halaman-halamannya
Ceritamu menjadi terlampau pendek untuk sebuah kisah cinta
Yang panjang. Untuk sebuah kota yang selalu digenangi kesedihan
***
Di antara kereta yang beranjak ke timur
Serta jerit peluit yang masih tersisa di telinga
Udara seperti bergetar meski hujan telah lama reda
Kita berjalan ke luar meninggalkan deretan bangku itu
Dan segera nampak aspal yang mengkilat, trotoar yang bersih
Juga bentangan rel yang ujungnya menghilang ditelan gelap
Kau sedikit sempoyongan menghirup candu kata-kataku
Sedang wajahku membiru oleh kalimat-kalimat tanggung
Dari cerita pendek yang tak kunjung kauselesaikan
Di sebuah warung segalanya menjadi lebih terbuka
Seperti majalah lama. Aku mengingat kembali namamu
Mencatat alamatmu, menghitung tahi lalatmu dan membaca
Isyaratmu. Gambar kupu-kupu hijau di atas payudaramu
Membuatku paham bahwa kau memang keturunan peri
Bahwa parasmu cantik sekali. Mungkin pelipismu tak serata
Jembatan yang menyatukan patahan garis di lengkung alis mata
Namun rambutmu yang segimbal musim hujan, serimbun ucapan
Telah membuat napasku menjadi begitu tidak keruan
Kau menciumku seperti gempa bumi yang pelan dan sopan
Lalu aku membalas ciumanmu layaknya tanah kerontang
Yang diberkati hujan. Rasa tembaga kucecap dari bibirmu
Seperti asin darah yang bercampur dengan buih-buih ludah
Aku menelan semuanya bagaikan menelan setiap peristiwa
Dalam kehidupan. Tapi di sebuah warung yang terbuka
Di majalah lama yang mulai sobek halaman-halamannya
Ceritamu menjadi terlampau pendek untuk sebuah kisah cinta
Yang panjang. Untuk sebuah kota yang selalu digenangi kesedihan
***
Tuesday, December 25, 2012
Malam Natal
oleh: Acep Zamzam Noor
Hanya dingin
Mengalir dalam diam
Ilusi hujan:
Lonceng gereja gemetaran
Angin gemetaran
Ilalang gemetaran
Siapa gerangan
Yang datang?
Hanya dingin
Mengalir dalam diam
1979
*dari https://www.facebook.com/acepzamzam.noorii/posts/523241711034287
Hanya dingin
Mengalir dalam diam
Ilusi hujan:
Lonceng gereja gemetaran
Angin gemetaran
Ilalang gemetaran
Siapa gerangan
Yang datang?
Hanya dingin
Mengalir dalam diam
1979
*dari https://www.facebook.com/acepzamzam.noorii/posts/523241711034287
Monday, December 17, 2012
Perpisahan
oleh: Acep Zamzam Noor
Kau meninggalkanku dengan rambut
Yang terbungkus kabut
Langkahmu kunangkunang
Diantara kegelapan yang mengepung malam
Aku pun melepasmu tanpa kepak elang
Tanpa lolongan anjing di kejauhan
2003
Kau meninggalkanku dengan rambut
Yang terbungkus kabut
Langkahmu kunangkunang
Diantara kegelapan yang mengepung malam
Aku pun melepasmu tanpa kepak elang
Tanpa lolongan anjing di kejauhan
2003
Monday, November 19, 2012
Senantiasa
oleh: Acep Zamzam Noor
Senantiasa kuhirup udara
Hembusan napasmu yang mesra
Lembut mengelus sukmaku
Yang letih dibakar dunia
Senantiasa kukobarkan cinta
Kepadamu. Terima kasih atas ruang dan waktu
Yang selalu engkau sediakan bagiku
Untuk bersujud mencium bumimu
Senantiasa kumaknai usia
Di belantara rahasiamu yang tak terkira
Aku jadi malu pada kebebasan
Kemerdekaan yang kini membelengguku
*dari antologi puisi "Tulisan Pada Tembok"
Senantiasa kuhirup udara
Hembusan napasmu yang mesra
Lembut mengelus sukmaku
Yang letih dibakar dunia
Senantiasa kukobarkan cinta
Kepadamu. Terima kasih atas ruang dan waktu
Yang selalu engkau sediakan bagiku
Untuk bersujud mencium bumimu
Senantiasa kumaknai usia
Di belantara rahasiamu yang tak terkira
Aku jadi malu pada kebebasan
Kemerdekaan yang kini membelengguku
*dari antologi puisi "Tulisan Pada Tembok"
Thursday, November 15, 2012
Mengikuti Langkah Kabut
oleh: Acep Zamzam Noor
Mengikuti langkah kabut dan jejak gerimis
Kulihat tanganmu menguraikan rambut musim semi
Dalam tarian paling sunyi. Dan matahari senja
Tenggelam dalam gerak paling inti
Dari pinggulmu. Ada yang hanyut dan tak tereja
Sepanjang pantai tubuhmu nampak berkilauan
Seperti lokan. Gaunmu yang tipis berkibaran
Mungkin pada cakrawala harus segera kukabarkan
Bahwa geliatmu meredakan gelombang dan eranganmu
Menahan topan. Ada yang luput dan tak terekam
Sedang angin yang kutangkap geraknya dan mega
Yang kuserap apinya dan kabut yang kuisap rahasianya
Tak kunjung paham. Pada bentangan langit malam
Kerling matamu menyelimuti bintang-bintang
Hingga padam. Ada yang gelap dan tak terungkapkan
*dari antologi puisi "Tulisan pada Tembok"
Mengikuti langkah kabut dan jejak gerimis
Kulihat tanganmu menguraikan rambut musim semi
Dalam tarian paling sunyi. Dan matahari senja
Tenggelam dalam gerak paling inti
Dari pinggulmu. Ada yang hanyut dan tak tereja
Sepanjang pantai tubuhmu nampak berkilauan
Seperti lokan. Gaunmu yang tipis berkibaran
Mungkin pada cakrawala harus segera kukabarkan
Bahwa geliatmu meredakan gelombang dan eranganmu
Menahan topan. Ada yang luput dan tak terekam
Sedang angin yang kutangkap geraknya dan mega
Yang kuserap apinya dan kabut yang kuisap rahasianya
Tak kunjung paham. Pada bentangan langit malam
Kerling matamu menyelimuti bintang-bintang
Hingga padam. Ada yang gelap dan tak terungkapkan
*dari antologi puisi "Tulisan pada Tembok"
Tuesday, October 16, 2012
Kupu-kupu
oleh: Acep Zamzam Noor
Selembar daun kering
Jatuh sudah. Dan taman tersenyum
Bunga-bunga mengangguk di sekitarnya
Sebutir embun (mungkin airmata)
Di panggung daun yang jatuh
Menjadi doa. Kupu-kupu terbang entah ke mana
*dari antologi "Tulisan Pada Tembok"
Selembar daun kering
Jatuh sudah. Dan taman tersenyum
Bunga-bunga mengangguk di sekitarnya
Sebutir embun (mungkin airmata)
Di panggung daun yang jatuh
Menjadi doa. Kupu-kupu terbang entah ke mana
*dari antologi "Tulisan Pada Tembok"
Monday, June 25, 2012
Menjadi Penyair Lagi
oleh Acep Zamzam Noor
Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap kali menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyalinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecoklatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal
Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya
O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi
1996
Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap kali menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyalinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecoklatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal
Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya
O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi
1996
Subscribe to:
Posts (Atom)

