herlangga juniarko

Powered By Blogger
Showing posts with label Maria Magdalena Bhoernomo. Show all posts
Showing posts with label Maria Magdalena Bhoernomo. Show all posts

Monday, October 7, 2024

Penyair

“BULAN depan aku diundang mengikuti acara temu penyair lagi,” ujar suamiku sambil merebahkan tubuhnya di sampingku.

Malam sudah larut. Aku sudah mengantuk dan bahkan sudah memejamkan mata. Tapi, gara-gara ucapannya itu, rasa kantukku seketika lenyap.

Aku merasa ingin sekali mengajaknya bicara serius tentang kepenyairannya yang sudah kuanggap gila atau tidak waras lagi. Bagaimana bisa disebut penyair waras, kalau suamiku sudah seperti ketagihan menghadiri undangan temu penyair yang belakangan nyaris rutin tiap bulan?

Padahal, akulah yang harus membiayai kepergiannya karena ia tidak punya penghasilan. Pernah suamiku mencoba mengajukan proposal bantuan dana kepada pemerintah daerah, tapi birokrasi terlalu berbelit-belit: proposal harus dilampiri surat keterangan dari RT, RW, desa dan kecamatan, yang membuatnya pusing dan malas mengurusnya lagi.

Sebagai istri, aku pun malu punya suami yang dianggap suka meminta-minta bantuan kepada pejabat yang tidak mengenal dunia kepenyairan. Malah, ceritanya, dia juga pernah diragukan kepenyairannya oleh petugas sekuriti di pendapa kabupaten ketika mau mengajukan proposal kepada bupati.

“Jangan ngaku penyair. Saya sejak kecil suka puisi, tapi belum pernah baca puisimu. Kalau bohong ke Pak Bupati, kamu bisa dipenjara! Silakan bawa pulang proposal ini!”