herlangga juniarko

Powered By Blogger
Showing posts with label Goenawan Mohamad. Show all posts
Showing posts with label Goenawan Mohamad. Show all posts

Wednesday, December 30, 2020

Waktu adalah mesin hitung, cintaku

Waktu adalah mesin hitung, cintaku
Jam berkeloneng dingin (seperti gaung)
di kota itu. Angka-angka telah lama tahu:
bayangku akan hilang sebelum salju

Sementara kau akan tetap jalan
(seperti kenyataan). Sampai pada giliran.
Mengaku, tiap kali daun jatuh di rambutmu:
"Ternyata kenangan hanya perkara yang lucu"

Tentu. Tidak Apa. Kita tak memilih acara.
Pada angin runcing dan warna musim kau juga
akan terbiasa. Nasib telah begitu tertib.
Pada Lupa kita juga akan jadi karib.


1973
Goenawan Mohamad
*sajak ini tanpa judul
**diambil dari antologi "sajak-sajak lengkap 1961-2001" Goenawan Mohamad



Thursday, January 10, 2013

Berjaga Padamukah Lampu-lampu Ini, Cintaku

Oleh Goenawan Mohammad

Berjaga padamukah lampu-lampu ini, cintaku
yang memandang tak teduh lagi padamu
Gedung-gedung memutih memanjang
membisu menghilang dari sajakku

Tapi kita masih bisa mencinta, jangan menangis
Tapi kita masih bisa menunggu. Raja-raja akan lewat
dan zaman-zaman akan lewat
Sementara kita tegak menghancur 1000 kiamat


1963

Saturday, December 8, 2012

Dongeng Sebelum Tidur

oleh: Goenawan Mohamad

"Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu Nonsens".

Itulah yang dikatakan baginda kepada
permaisurinya, pada malam itu. Nafsu diranjang
telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi
dan sprei

"Mengapa tak percaya? Mimpi akan meyakinkan
seperti matahari pagi".

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma
menutup kembali kain ke dadanya dengan napas
yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.
Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

"Batik Madrim, Batik madrim, mengapa harus, patihku?
Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih
dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?"


1971
*dari antologi puisi "Tonggak 3"