herlangga juniarko

Powered By Blogger
Showing posts with label Nurul Lutfia. Show all posts
Showing posts with label Nurul Lutfia. Show all posts

Sunday, January 3, 2021

Ketakterdugaan

:DN

/1/
Kita adalah ketakterdugaan
Bahkan saat aku ingin mengurai pertemuan kita,
Tak kutemui apapun selain tanya yang menggantung di udara,
Bahkan secarik peta buram yang membawamu kemari pun tak ada.

/2/
Kita adalah dua kutub yang berlainan
Kita kerap merayakan perbedaan-perbedaan,
entah kau hanya tertawa
atau kita menjelma kepala batu yang meyakini hal-hal yang kita anggap benar;
Tetapi katamu, dari begitu banyak hal yang berbeda,
kita masih punya—setidaknya satu
kesamaan kan?
Aku tersenyum saja.

/3/
Kita tak pernah selesai bercakap tentang langit,
senja, dan cuaca yang tak bisa kita terka
Percakapan kita terlalu tua
untuk malam-malam yang belum beranjak
di antara tegas matamu, aku menemukan kecemasan
Yang kausembunyikan dalam-dalam.
Tenanglah.
Kita masih punya sepasang doa—
yang semoga kelak tetap saling menjaga.


Cirebon, 01 Juni 2017



Saturday, September 24, 2016

Dermaga

oleh: Nurul Lutfia

dermaga itu menyetiai pertemuan demi pertemuan
awal kenang yang merekam tiap jejak perjalanan
pangkal dari pertemuan adalah perpisahan
selalu begitu. kau pemotret ulung
tiap pertemuan-perpisahan

suatu waktu, kau, aku akan sama-sama pergi
meninggalkan kota yang merangkum pertemuan kita 
rindu adalah dermaga harap yang kaulabuhkan tanpa isyarat
hanya larik doa yang menggantung di pantai cerita.


Bandung, 5 April 2014 


*catatan: saya masih ingat ketika membaca puisi ini di Pendopo Indramayu dulu. Sangat menyenangkan :)

Thursday, February 27, 2014

Segelas Kopi dan Coklat Panas

oleh: Nurul Lutfia

di meja makan ini, tersaji sekerat roti
dan segelas coklat panas
kau tak pernah memintaku menuangkan coklat
juga tak pernah membiarkanku memoles roti
dengan selai kesukaanmu

kau malah menyeduh kopi pekat
mengaduknya dengan airmuka
yang tak pernah bisa kutebak
"bisakah kau menyukai kopi,
sedangkan yang biasa kauminum adalah coklat hangat?"
kau katakan itu dengan tergesa.

aku menyudahi diri mencecap harum coklat
lantas menebak-nebak rasa yang kautaruh
dalam secangkir biang kopi.

kau benar, aku tak pernah menyeduh kopi sendirian
tapi keterbiasaan akan memaksaku
melenyapkan rasa getir yang ia hadirkan
waktu akan melenyapkan pahit ingatan kita
juga segala hal yang tak bisa kutakar.

Bandung, 17 Februari 2011

Tuesday, July 16, 2013

Setiamu

Adalah pentul korek yang tak diaku,
Pun, aku menganggapmu begitu,
Tuan lugu yang selalu bersua tentang aku,
Terus menjamah kerudungku dengan rindumu,

Aku adalah adalah potongan tulang rusukmu, itu katamu
Dan aku bersua, sungguh lucu!
Siapa kamu?
Berani-beraninya selalu mengeja namaku!
Aku takkan bisa kaurindu dalam diammu, Tuan!

Coba katakan!
Kamu akan menungguku sampai langit tak berseliput awan?
Kamu mau menyisakan sehimpit ruang sampai burung-burung gereja tak lagi berdatangan?
Kamu mau merinduku sampai kemarau tak lagi menyesap sepiku?
Kamu mau menjadi udaraku yang bisa setiap saat kuhirup?
Aku yakin kau takkan mau, Tuan.

Sesak, aku merasa udara menyesakkan dadaku
Ketika kamu, dengan segaris senyuman mengangguk mau
Lagi, kamu mau mengisi ruang dalam jelaga hatiku
Aku membisu, aku malu
Aku tak punya lagi peluru untuk menyerangmu
Karena setiamu telah mencumbuku

Sekarang, kamu bukan pentul korek lagi, Tuan
Doa-doa dalam diammu mematahkan lengan egoku
Sajakmu telah merobohkan tembok keangkuhanku
Aku terbius pada setiap lema yang kautulis
Seakan di setiap lemanya mengendap cintamu
Mengembun, menunggu digapai olehku 
Dan sekarang, pun aku mau menerimamu
Karena setiamu


Bandung, 22 September 2011