herlangga juniarko

Powered By Blogger
Showing posts with label Tri Cahyana Nugraha. Show all posts
Showing posts with label Tri Cahyana Nugraha. Show all posts

Sunday, January 28, 2024

Jarak

Entah bagaimana lagi kueja parau suaramu
Nasib pun tak kunjung menjelma jalan pulang
Kalimat-kalimat tanya seketika menyerbu
Hari-hari ragu yang menabu

Rasanya, hidup hanya lingkar 
kekal kehampaan
Gelap tak berujung
Wadah segala sepi
Menggambar wajahmu di kelambuku

Sampai kapan?
Aku pun tak sanggup pastikan
Jalan terjal menjejak di kepala
Usaha sia-sia


Panorama, 2024
Tri Cahyana, Herlangga, 
Bryan Dika, Abdillah


Sunday, January 21, 2024

Kepada Kota yang Disumpahi Sunyi

Kepada kota yang disumpahi sunyi
Si bajingan tolol itu
Mencacah almanak seribu windu
Kemudian sesalan belia 
kembali runtuh di mata
Melebur dan merobek ingatan

Si Bajingan!
Angkuh merengkuh dua manik-manik Tuhan
Amsal ibrahim di padang safar

Ah, tanggal-tanggal lalu 
mengepung. Tubuhku biru.
Adakah kesempatan untuk merapal doa?

"Kau memang Bajingan!" ucapmu dan ia
Melepas janji beribu bintang
Meski cinta melata 
di sepanjang angkasa dan mayapada.


Setiabudhi, 20 Januari 2024
Tri Cahyana Nugraha, Herlangga Juniarko, 
Bryan Dika, Abdillah Al-Hafizh


Monday, July 19, 2021

Pada Kota yang Mengibun Karena Kenangan

Pada kota yang mengibun karena kenangan
Bagiku kini hanya jarak antara ujung timur ke dinginnya utara
Kulihat matamu masih jalanan tanpa nama
Berselimut kenangan tak terduga

Kau tahu, saat kau meriak sepi
Aku di titik pertama,
Ketika kau bertamu dan mengucap salam
Sejujurnya, sepi juga menyerang di sepanjang ingatan
Tapi ku tak tahan melawan khayalan

Bisu barangkali sudah suratan kau dan aku
Serupa toko kelontong yang tutup selepas malam
Tanpa ada bisikan yang mengerang
Ah Puan, masihkah aku persinggahan?


Setiabudi, 23 Juni 2021
Abdillah Al-hafizh, Faisal Abdul Rauf,
Herlangga Juniarko, & Tri Cahyana Nugraha


Thursday, January 5, 2017

Dilatasi Waktu

Soal waktu yang berkaitan dengan perasaan
Kemudian katakata memepat menjadi distorsi hujan yang menua karna penantian
Dan mati tanpa ada persaksian

Aku sempat ingat kau berkata:
"Kematian adalah kenangan"
seraya mengibaskan rambut hitammu
Diiringi jatuh kelopak senja di tepi hujan

Ah, dukaduka yang papa. Masihkah kau di sana?
Merindu muram yang sama

Aku senantiasa mencari lekuk kesedihan dari tiap kecupmu
Wajahmu senja. Aku masih ingat juga
Meski mulai memudar diterpa senyum-senyum rekah dari bibir tipis itu

Oh, aku jatuh juga
Pada kesepian waktu tentang kita
Adakah rindu itu masih menghantui malammu?
Setelah kutikam mati anak-anak rindu itu
Lalu cahaya lampu kota pun sempat jatuh untuk mengenangmu
Nara, bagaimana kabarmu?


Panorama, 12 Desember 2016
Abdillah Al-Hafizh, Herlangga Juniarko, & Tri Cahyana Nugraha



Friday, May 15, 2015

Muak

Aku
Tak lebih dari seekor anjing pemakan darah
Bermain di tumpukan bangkai
Menari di atas taburan nanah

Kau
Bercerminlah siapa engkau


Mei, 2012
Tri Cahyana Nugraha

Wednesday, March 19, 2014

Gerimis Di Luar Sana

oleh: Tri Cahyana Nugraha

Gerimis di luar sana, dan aku disini, menatap layar cahaya yang setia menemaniku. Menulis secarik resah yang sangat mengganggu.
Pada akhirnya aku tak sanggup menjadi putih, bahkan aku tak sanggup menjadi kelabu. Bagaimanapun aku tetaplah hitam, yang mencoba melukis cinta dengan satu warna itu.
Di tepi jalan, di tengah malam, di bawah remang lampu jalan aku selalu pergi. pergi mengais sisa-sisa memori senyummu untuk ku rangkai menjadi kebahagianku. Aku memang pemimpi, yang dengan bodohnya memaksa tak mengerti dengan keadaan. Bahkan ketika kau, atau mereka sebelumnya meludahiku dengan segala kebencian, aku selalu memaksa memimpikan senyum di sampingku
Oh, terkadang aku lelah. Mencoba membuka mata dan melihat kenyataanya. Namun pada akhirnya aku tertidur kembali, jauh tertidur, meskipun terluka, meskipun aku tak bisa bangun kembali. Aku lebih nyaman tertidur.
Pada kilatan lampu jalan di jendela kaca bis itu, aku bergantung melihat wajahmu yang terlelap. Wajah wanita yang membuatku tak takut mati. Wajah wanita yang tak bisa aku miliki.
Ya, sudah kubilang aku pemimpi bodoh. Dengan lembar-lembar mimpi yang tak pernah terselesaikan. Dan aku tak bisa mengerti apapun. Bahkan mimpiku sendiri.
Dan ketika kau membaca ini, kau pun mungkin bingung. Tapi tak usah kau pikirkan. Jika memang tidak ada, biarkan aku seperti hujan yang sesekali menggangu. Cukup abaikan dengan sebatang payung.

Tapi jika ada, biarkan aku tahu lebih jauh. Agar aku tak selalu tertidur bersama memoar-memoar yang tak
pernah pasti.

November, 2013