oleh: Herlangga Juniarko
Hari ini adalah hari yang sungguh
seharusnya sangat membuatnya bahagia. Untuk sebagian orang, hari ulang tahun
adalah hari yang cukup spesial dengan berbgai kebahagiaan memutari setiap waktu
pada tanggal tersebut. Begitu pula yang terjadi pada Evie, dia memaknai hari
ulang tahunnya kali ini dengan berbagai renungan yang begitu dalam, renungan
yang selalu ia sadari bahwa ia adalah hanya makhluk Allah SWT dan ia takkan
mampu untuk menyalahi hal itu.
Sakitnya semakin parah saja di hari
ulang tahunnya ini, ia mengalami kanker pankreas stadium empat yang akan
membuat kesempatan hidupnya kini semakin menipis. Kini ia hanya akan mencoba
menjadi sang mentari yang menyinari dunia di hari senja. Kini ia hanya
berpasrah pada takdir yang Allah berikan padanya dan berusaha untuk menjadi
lebih indah ketika ajalnya mulai mendekat.
Di malam ulang tahunnya yang
seharusnya akan selalu berakhir bahagia. Ia hanya duduk terpaku di teras
rumahnya. Teras yang selalu meneduhkan hatinya dengan pohon-pohon kersen dan
mangga yang ada di halaman rumahnya. Ia hanya duduk termenung sambil sesekali
membenarkan kerudung sucinya.
Di malam yang dingin itu, kini ia
merasa dekat sekali dengan Sang Penciptanya. Ia ingin sekali bertemu dengan
sang penciptanya itu, meskipun ia merasa diri tak akan pernah pantas untuk
bertemu dengan-Nya.
