herlangga juniarko

Powered By Blogger

Thursday, August 8, 2024

Cerita Seorang Dokter Gigi yang Memutuskan Belajar Bahasa Isyarat

Seorang anak kecil datang ke hadapan
Giginya telah bergoyang
“Bisakah anda mencabut gigi?” tanyanya

Setelah gigi tercabut,
“Dok, bisakah anda mencabut suara juga?”
Dokter gigi itu terdiam
Kata demi kata, ia susun kembali
Hanya untuk memahami
Maksud dari setiap huruf

Kemudian setelah koma
Menjadi jeda antara mereka
Si anak melanjutkan tuturan
“Aku takut.
Nanti setelah dewasa,
Akan sering berbicara kasar.
Rumah akan menjadi kotor
Dan kata-kata berserakan seperti sampah

Aku takut. Mulutku
Seperti Ayah
Yang menyemburkan minyak
Atau
Seperti Ibu
Yang memercikkan api

Rumah terbakar
Segalanya menjadi hangus
Kutunggu saja
Hingga keduanya berakhir
Sebagai arang dan abu
Akan tetapi,
Setiap sudut rumah telah berjelaga
Aku jadi kesulitan
Membersihkannya.”
Dokter gigi itu masih terdiam
Seperti seorang yang sakit gigi

Anak itu kembali bertutur dengan gembira
“Tetapi, saat Ayah dan Ibu sakit gigi,
Rumah menjadi sangat bersih
Bahkan, ada sedikit wangi bunga.
Aku tak tahu nama bunga itu.

Jadi Dok,
Bisakah anda mencabut suara juga?
Atau setidaknya,
Membuatku sakit gigi selamanya?”


2024
Herlangga Juniarko


Wednesday, July 17, 2024

Di Jalan Aceh, Bandung. Aku Ingin Menjadi Pahlawan!

Orang bilang,
Di negeri ini, pahlawan telah mati
Mereka terjebak dalam uang kertas berbagai edisi
Terinjak dan menjadi lebih kumal
Daripada cucian yang murung
Karena awan mendung

Anehnya,
Di Jalan Aceh, Bandung
Aku melihat pahlawan-pahlawan
Berdatangan. Bersama-sama 
menanam sebuah pohon kehidupan

“Pohon ini tak akan pernah tumbang
Tak akan pernah gugur
Ia akan senantiasa mengusir segala
Mendung dan murung!”
Seru seorang pahlawan
Yang darahnya mengalir menjadi daun

Matahari dalam tubuhku berontak
Serupa harapan
Aku ingin hidup
Seperti pahlawan


Palang Merah Indonesia Kota Bandung, Juli 2023
Herlangga Juniarko


Friday, May 31, 2024

Bagaimanakah Cara Mengucapkan Terima Kasih dalam Bahasa Isyarat?

Di depan Stasiun Bandung,
Pertemuan terakhir berlangsung
Setelah mengiris kelingking waktu
Dengan kelingking yang lain
Kau pun mulai berbicara dalam isyarat

Di jemarimu, alfabet berlarian ke sana ke mari
Menjelmakan semua yang kau utarakan
Aku pun belajar menjadi Adam
Kupahami setiap sunyi
Menjadi nama, angka, warna
Atau apa saja yang bisa menjadikan keluarga

Ah, waktu berlalu dalam bermacam potongan singkat
Mosaik bertebaran
Kau bungkus dan kumpulkan
Hingga menjadi kado
Yang dibagi merata sebagai harapan dan doa

Tanpa sadar, diam-diam entah dari mana
Aroma parfum mewangi mengisi ruang
Menjadi pengingat yang kuat

Sampai penutup, kau kembali berbicara dalam isyarat
Alfabet berlarian. Kali ini, di mata
Aku mungkin tak paham
Atau hanya ‘selamat tinggal’
Yang mampu kuterjemahkan

Meski begitu, aku ingin bertanya untuk yang terakhir
Bagaimanakah cara mengucapkan terima kasih
Dalam bahasa isyarat?


2024
Herlangga Juniarko




Saturday, April 6, 2024

Frieren: Waktu dan Seluruh Haru yang Berlalu

—sebab Himmel—

Sampai kapan kau akan
Hidup
Dan
Abadi
Dalam tubuh?

Pada hari perpisahan
Tak pernah ada kenangan
Di mata, di mana pun
Kita tak pernah menuang air mata
Untuk setiap perpisahan
“Karena pasti malu jika bertemu lagi”

Tetapi,
Aku akan tetap memahat ingatan
Di tiap-tiap tempat
Di mana kita pernah bergembira
Agar kau tak kesepian
Dan sejenak merayakan
Pertemuan-pertemuan yang tak berumur panjang

Jikalau nanti waktu telah menyihir
Segala hal menjadi sia-sia,
Kumohon, sekali lagi
Gambarlah sepetak sekar bulan biru
Yang paling haru
Yang paling sendu
Di makamku


2024
Herlangga Juniarko


Sunday, January 28, 2024

Jarak

Entah bagaimana lagi kueja parau suaramu
Nasib pun tak kunjung menjelma jalan pulang
Kalimat-kalimat tanya seketika menyerbu
Hari-hari ragu yang menabu

Rasanya, hidup hanya lingkar 
kekal kehampaan
Gelap tak berujung
Wadah segala sepi
Menggambar wajahmu di kelambuku

Sampai kapan?
Aku pun tak sanggup pastikan
Jalan terjal menjejak di kepala
Usaha sia-sia


Panorama, 2024
Tri Cahyana, Herlangga, 
Bryan Dika, Abdillah