herlangga juniarko

Powered By Blogger

Tuesday, August 31, 2021

Dengan Kata Lain

Tiba di stasiun kereta, aku langsung
cari ojek. Entah nasib baik, entah nasib buruk,
aku mendapat tukang ojek yang, astaga,
guru Sejarah-ku dulu. “Wah, juragan
dari Jakarta pulang kampung,” beliau menyapa.
Aku jadi malu dan salah tingkah. “Bapak
tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?”

Nyaman sekali rasanya diantar pulang
Pak Guru sampai tak terasa ojek sudah
berhenti di depan rumah. Ah, aku ingin kasih
bayaran yang mengejutkan. Dasar sial,
belum sempat kubuka dompet, beliau sudah
lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja.

Di teras rumah Ayah sedang tekun
membaca koran. Koran tampak capek
dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya berguguran
ke lantai, berhamburan ke halaman.

Tak ada angin, tak ada hujan, Ayah tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru, “Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu.”


2004
Joko Pinurbo
*diambil dari antologi puisi "Selamat Menunaikan Ibadah Puisi"


Friday, July 23, 2021

Aku Tua & Aku Cinta Twice

Banyak penyair milenial, tapi puisi-puisi
masih tentang angin dan hujan. Padahal
K-Pop lebih mencengangkan. Lagu & tarian
Gadis-gadis muda diidolakan, dan di sana
Kita saksikan hidup begitu mulus, begitu
sempurna: semuanya indah dan baik-baik saja

Setiap berdiri di depan kaca, aku yang tua
akan menyalakan Youtube. Kutonton grup,
Twice namanya. Wajah-wajah mereka
Tak pernah menua. Senyum mengembang,
Lalu mereka berdendang. Bergoyang.

Cirit… Cirit… Cirit… Aku tak tahu artinya
Tapi tampaknya menyenangkan

Sejenak lupakan, negara pernah memaksa rakyatnya 
Antre sembako. Dan kini berwacana pajak sembako.

Melihat lagi kulit-kulit cerah yang tak pernah
Terbakar matahari. Mata indah, tak pernah merah
Menangis kehilangan tanah dan rumah.

Duh, aku tua & aku cinta Twice
Hidup sendiri dan mampu merasa puas.


2021
Pringadi Abdi
*diambil dari Instagram Story Pringadi Abdi



Monday, July 19, 2021

Pada Kota yang Mengibun Karena Kenangan

Pada kota yang mengibun karena kenangan
Bagiku kini hanya jarak antara ujung timur ke dinginnya utara
Kulihat matamu masih jalanan tanpa nama
Berselimut kenangan tak terduga

Kau tahu, saat kau meriak sepi
Aku di titik pertama,
Ketika kau bertamu dan mengucap salam
Sejujurnya, sepi juga menyerang di sepanjang ingatan
Tapi ku tak tahan melawan khayalan

Bisu barangkali sudah suratan kau dan aku
Serupa toko kelontong yang tutup selepas malam
Tanpa ada bisikan yang mengerang
Ah Puan, masihkah aku persinggahan?


Setiabudi, 23 Juni 2021
Abdillah Al-hafizh, Faisal Abdul Rauf,
Herlangga Juniarko, & Tri Cahyana Nugraha


Saturday, July 17, 2021

Jika Malam Terlalu Dalam

Di kota ini orang-orang bersekongkol ingin menghapusku. Mereka tidak pernah bisa mengeja namaku dengan benar. Aku harus mengenakan nama entah siapa ke mana-mana. Berganti-ganti. Mengubah hari-hariku menjadi tempat persembunyian. Hidupku bagai penyamaran yang takut terungkap. Di luar ingatan, tiada yang nyata.

Datanglah. Datanglah sekali lagi. Kembalikan aku kedalam tubuhku. Aku ingin tetap mencintamu dengan nama yang sama. Bunyi yang bergetar pelan seperti nyanyian pengantar tidur di lidahmu.

Atau, jika malam terlalu dalam menyepikan kau dan jarak terlalu jauh menepikan aku, bisikkan namaku sebagai permintaan. Di luar harapan, tiada yang pasti. Tiada.


Aan Mansyur
*diambil dari antologi puisi "Tidak Ada New York Hari Ini"



Saturday, June 12, 2021

Cermin: Apa Kabar Aku

Kita saling berhadapan untuk merayakan kesunyian
Tak lupa kubawa
trompet di tangan kanan
pisau di tangan kiri

:Kau bawa trompet di tangan kiri
pisau di tangan kanan

“Kau akan selalu menjadi kue ulang tahun,” kataku
Kau diam seperti biasa
Seolah mengolah sesal menjadi kesal

—Ah, segala hal selalu terbalik antara kita
Bahkan yang tak kasatmata—

Lalu trompet merayakan kesunyian
Aku kembali bertanya,
“Apa kau ingin memotong kue juga?”

Kau tertawa bahagia mendengarnya


12 Juni 2021
Herlangga Juniarko