herlangga juniarko

Powered By Blogger

Thursday, February 28, 2019

Waktu Telah Berkhianat dan Berubah Menjadi Kemarau

oleh: Herlangga

Hujan itu seperti kenangan yang tak kunjung usai
Kata-kata menjadi beku dalam kemarau
Ya! Kemarau dan angin gersang masih saja berdiri seperti kau
Mengucapkan hal-hal yang tak menarik atau
Cuaca yang tak kunjung romantis
Segalanya menjadi kering
Padahal hujan menderas dan membuat kita menggigil

Rin, pada kesepian yang membeku
Benarkah waktu telah mengkhianati kita
Atau
Hanya dalam ruang imaji kita berjumpa

Meja, kursi, dan pintu membeku
Hujan menghentikan waktu
“kita masih menjadi imaji” katamu

Kenyataan adalah kata benda paling menyakitkan
Sedangkan berjumpa adalah kata kerja paling maya
Sungguh apalagi yang dapat dibahas selain aku, kau,
Dan kaki yang menginjakkan dirinya di lantai batas

Aku merindukanmu.


Bandung, 2 Januari 2019

Saturday, January 26, 2019

Pena

Ketika kau ingin menulis, tetapi tak bisa
Maka pena akan menuliskan dirinya sendiri

Ia akan menulis
Perkara rindu, yaitu waktu yang berlalu
Perkara sendu, yaitu airmata yang menjadi benalu
Dan perkara cinta, yaitu seseorang yang tak ada dalam logika

Kemudian kau pun tertegun,
Itu semua bukan tentangmu

2017
Herlangga Juniarko



Thursday, December 27, 2018

Dari Lavender yang Jadi Imaji

:Hinata

oleh: Herlangga

I
Matamu masih lavender
Sejujurnya lavender selalu mengingatkanku akan pengharum ruangan di kamar
Setelah menyemprotnya ke seluruh ruangan maka ada imaji yang terbangun
Aku akan menggambarkannya untukmu:
Sebuah kamar terisi bunga di sekeliling
Dan seseorang dengan rambut lavender di sana
Oh tentu, Tuhanmu akan tahu siapa dia,
Karena kau pernah berkata bahwa dunia kita tersekat imaji dua dimensi

II
Maaf, aku tak datang ke pernihakanmu
Entah mengapa, Tuhanmu dan Tuhanku bersepakat tidak mengizinkanku datang
Atau mungkin membiarkan segalanya tetap bersekat dalam ruang imaji

Sejujurnya,aku ingin memaksa Tuhanmu yang setara aku untuk tunduk
Tapi tak apa.

Friday, November 2, 2018

Episode Terakhir dari Kenangan

oleh: Cecep Syamsul Hari

Ketika waktu berhenti,
kota-kota menghapus jejak airmatamu
dengan keheningan kenangan.

Aku tak lagi mampu mengingat
kapan kisah cinta itu dimulai,
kapan selesai.

Barangkali pada sebuah senja
di bising kota asing dan kumuh,
pada beranda sebuah hotel di ujung jalan
riuh.

Atau dalam kafe tanpa

Wednesday, September 5, 2018

Mula Batu, 1

oleh: Sapardi Djoko Damono

1

sejak itu kita berjanji untuk beriman pada kata

sejak itu kita ciptakan dewa
yang tak pernah terpejam matanya
yang tak pernah tertutup telinganya
yang selalu menuding telunjuknya
yang memaksa kita mendengar dan mengucapkan
satu-satunya kata

sejak itu kita berjanji untuk beriman pada kata
agar ada yang mengawasi kita
ketika naik-turun bukit
ketika masuk-keluar gua

kita beri tanda pohon demi pohon
agar bisa kita tafsirkan padanannya
kita beri nama hewan-hewan
yang sejak mula berkerumun di sekitar
agar pada suatu hari kelak
ketika langit seperti debu arang
ketika terjadi banjir besar bisa mendengar gema syiar di hutan-
       hutan dan sepasang demi sepasang dengan
       patuh naik ke perahu
agar pada suatu saat yang sudah disiratkan mencapai
     sebuah bukit yang sudah tersurat namanya

kita pun merentangkan jarak
kita pun merentangkan waktu
kita pun melipat jarak
kita pun memapatkan waktu
lalu kita bentur-benturkan keduanya agar bepercikan
       warna dan berdenting suara dan kenangan dan cinta
       dan remah-remah segala yang pernah keluar-masuk
       mimpi kita
dan kita bentur-benturkan keduanya agar melesat kembali
       dari kobaran api bersama sunyi-senyap-sepi yang
       mulai rontok sayap-sayapnya

kita suratkan babad batu ini


*diambil dari kumpulan sajak "Babad Batu"