herlangga juniarko

Powered By Blogger

Saturday, July 30, 2016

NEET

"Sampah"
ah pada akhirnya, ia mendengar
Jarum jam menusuk dada dan kepala

"Sampah. 
Seharusnya buang saja ke tong sampah", katanya
Sambil mengasah tangan pada leher dan nadi
Ia sudah kehabisan ruang dan tali

Bahkan untuk pulang pun tak ada tali
Pikirnya.


2016
Herlangga Juniarko


Sunday, July 3, 2016

Perih

oleh: Herlangga

Sepanjang jalan, macet membawa perih
“Tidak,” katamu.
Perih adalah jarak tak kasat mata antara kita

Kemudian bianglala berputar di atas kepala

Sudah seminggu tangan ini berdarah
Tersayat kata saat mengupas puisi
Dan menghasilkan perih

Kau tahu, darahku tak pernah melihatmu
Dalam dekade. Ia masih merindui perih


2016

Wednesday, May 4, 2016

Sekedar Kunang-kunang

oleh: Herlangga

Celaka!
Aku masih mengingat hari ketika pertamakali orangtuamu tersenyum karenamu
Hari yang kau (sempat aku) keramatkan

Tak Mungkin!
Bayanganmu masih lekat pada imaji
Tak bisakah kau sekedar menjadi kunangkunang dalam belenggu waktu?

Karena sungguh!
Aku tak ingin kunangkunang kembali menjadi kupu
Jadi, tak bisakah kau sekedar menjadi kunangkunang dalam ruang kenangan?


27 April 2016

Saturday, April 16, 2016

Sajak Kartu Bergambar

oleh: Herlangga

Pada ruang yang sepi
kata-kata kita lesap menjadi ribuan kilometer

Di tangan, dua buah kartu bergambar dan bernama
Dante dan Beatrice
Masih cintakah?
Mereka tak kawin
Ya

Memepatkan angkasa menjadi seluas kartu
kemudian menjadi abadi

aku berkata:
"Divine Comedy hanya omong kosong.
Mana mungkin seorang lelaki rela pergi ke neraka
demi seorang wanita yang tak dikawin"

Pada ujung semesta, kau berkata
"Seperti kita?"


2016


Wednesday, April 6, 2016

Perbedaan Implikatur Antara Penutur dan Mitra Tutur dalam Kerelevansian Tuturan

oleh Herlangga

             Setiap manusia pada dasarnya adalah makhuk yang tidak bisa berdiri sendiri dan selalu membutuhkan bantuan dari yang lain. Dengan demikian manusia pasti akan berusaha bersosialisasi dengan yang lain dengan cara berkomunikasi melalui sandi-sandi yang mereka buat sendiri yang biasa disebut bahasa.
            Bahasa yang diciptakan manusia pun terkadang tidak mampu menampung apa yang ingin disampaikan oleh penuturnya. Keinginan yang tidak tersampaikan itu pun berusaha disampaikan dengan cara menyiratkannya dalam bahasa yang digunakan. Siratan-siratan dalam sebuah tuturan tersebut disebut implikatur.
            Dalam berkomunikasi, implikatur ini dapat menyampaikan pesan dari si penutur dengan memunculkan dan membentuk konteks sehingga percakapan dapat lebih berjalan dengan baik. Implikatur juga meski disebut sebagai penyimpangan maksim dalam teori Grice ternyata dapat muncul dalam setiap tuturan bagaimana pun bentuknya bahkan jika penutur tidak memberikan implikatur dalam tuturannya.
            Namun seperti yang kita tahu, mitra tutura adalah orang yang menerima pesan dari penutur sehingga seringkali terjadi perbedaan penerimaan implikatur oleh si mitra tutur dan pemberian implikatur dari si penutur. Kita biasa menyebut hal ini sebagai sebuah kesalahpahaman dalam percakapan.
            Tulisan ini akan membicarakan kesalahpamahan tersebut dilihat dari sisi kerelevansian tuturan yang yang terjadi dan bagaimana suatu tuturan dapat kembali menjadi relavan meskipun terjadi perbedaan implikatur antara yang member dan yang menerima. Dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip dari teori relevansi maka akan terlihat bahwa suatu tuturan memiliki kerelevansiannya masing-masing sehingga setiap ujaran tersebut bisa menjadi sebuah konteks.
            Dalam tulisan ini pula dibahas bagaimana strategi mitra tutur dalam membentuk ulang konteks yang diinginkan penutur setelah mengalami perbedaan penangkapan implikatur dalam tuturannya masing-masing sehingga percakapan menjadi relevan dengan kesamaan konteks.

Landasan Teori