Thursday, March 3, 2016
Mi Querido
oleh: Pringadi Abdi
- "Jika cinta tak dapat dimiliki, mungkin memang seharusnya kita membuangnya jauh-jauh. Membuangnya ke tempat yang terdalam" -
Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran. Padahal kau (begitu pun aku) telah sama-sama jatuh cinta pada Braga yang menguapkan segala kekakuan kota. Kekakuanmu. Kekakuanku. Kekakuan segala tetek bengek rumus matematika dan fisika di kelas-kelas jam tujuh pagi. De Gauss gila. Descartes yang sia-sia. Cinta. Ah, aku padamu bagai dahan pohon cemara, ditepuk angin, dan benarlah Chairil itu, hidup hanya menunda kekalahan.
“Katakanlah...”
“Apa?”
“Yang seharusnya ingin kau katakan.”
Padahal aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak ingin membiarkan segala huruf berloncatan dan meledekku dari kejauhan, kemudian udara dingin menggigilkanku lewat sela sweater yang kukenakan (meski berlapis), menatap matamu dan api menyala-nyala di dalamnya seolah Patuha siap menyemburkan lahar yang mati, tetapi yang kurindukan tetaplah hangatnya pelukanmu.
“Jangan sentuh aku lagi...aku tidak mau tanganmu yang memiliki bekas perempuan lain.” Tambahmu marah. Tetapi wajahmu tenang-tenang saja sambil menyuap lembutnya es krim yang pertama kali kukenalkan kepadamu, ketika hujan rintik-rintik dan kita terbiar di atas kedua belah kaki, tak berpayung, dan berlari-lari kecil seolah dikejar kecemasan. “Aku takut gerimis...” begitu kau bilang kepadaku kala itu. Aku pun hanya bisa menangkupkan jaketku ke atas kepalamu dan kau tersenyum manis dengan lesung pipitmu itu.
“Aku masih mencintaimu, Lin....”
“Dan kau mencintainya juga?”
- "Jika cinta tak dapat dimiliki, mungkin memang seharusnya kita membuangnya jauh-jauh. Membuangnya ke tempat yang terdalam" -
Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran. Padahal kau (begitu pun aku) telah sama-sama jatuh cinta pada Braga yang menguapkan segala kekakuan kota. Kekakuanmu. Kekakuanku. Kekakuan segala tetek bengek rumus matematika dan fisika di kelas-kelas jam tujuh pagi. De Gauss gila. Descartes yang sia-sia. Cinta. Ah, aku padamu bagai dahan pohon cemara, ditepuk angin, dan benarlah Chairil itu, hidup hanya menunda kekalahan.
“Katakanlah...”
“Apa?”
“Yang seharusnya ingin kau katakan.”
Padahal aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak ingin membiarkan segala huruf berloncatan dan meledekku dari kejauhan, kemudian udara dingin menggigilkanku lewat sela sweater yang kukenakan (meski berlapis), menatap matamu dan api menyala-nyala di dalamnya seolah Patuha siap menyemburkan lahar yang mati, tetapi yang kurindukan tetaplah hangatnya pelukanmu.
“Jangan sentuh aku lagi...aku tidak mau tanganmu yang memiliki bekas perempuan lain.” Tambahmu marah. Tetapi wajahmu tenang-tenang saja sambil menyuap lembutnya es krim yang pertama kali kukenalkan kepadamu, ketika hujan rintik-rintik dan kita terbiar di atas kedua belah kaki, tak berpayung, dan berlari-lari kecil seolah dikejar kecemasan. “Aku takut gerimis...” begitu kau bilang kepadaku kala itu. Aku pun hanya bisa menangkupkan jaketku ke atas kepalamu dan kau tersenyum manis dengan lesung pipitmu itu.
“Aku masih mencintaimu, Lin....”
“Dan kau mencintainya juga?”
Monday, January 25, 2016
Hujan Berkembang
1. Aku. Adalah yang terikat dengan non-kepemilikan (tak memiliki, tak juga dimiliki)
2. Kamu. Dengan ketajaman perasaan melepaskan ikatan-ikatan itu
3. La ilaha ilallah berkumandang ketika tergelincirnya senja. Aku berujar bahwa nasi goreng itu enak dan khas. Satu waktu akan kubawa untukmu
4. Layaknya buku baru, aku tuliskan apa saja yang ku mau. Kebetulan, sintaksis waktu itu. Tiga halaman yang kau bantu.
5. Harum tanah, pesawat terbang, tisu, saus dan pizza yang tercatat. Iya, mereka semua berserikat dan bersaksi saat pertama kali tanganku hampir menyentuh pipimu.
6. Ada rasa tak enak dariku waktu itu, mungkin cemas. Tapi kamu pasti tahu. Bila aku dan kamu suka bakso, kita akan memakannya bersama.
...
7. Dia yang cemas adalah yang memacu cepat motornya untuk memastikan tidak ada masalah dengan keset yang mendadak hilang dan jendela yang terbuka.
8. Dia adalah yang mengerti hangatnya perasaan perempuan yang memberinya selimut ketika dia tertidur di lantai saat hujan tahun itu.
9. Dia adalah yang memandangi raut wajah perempuan yang
Wednesday, January 20, 2016
Pernyataan: Kata-kata
oleh: Herlangga
Kata-kata masih bersemadi
Dalam dada
Kau pun menyemai
Hujan menjadi kau
Merintik
Kembang api
Sempatkah kau berpikir
ada kunci yang menghilang sebelum pernyataan?
Ketakutan.
2016
Tuesday, January 19, 2016
Somnambulisme
oleh: Herlangga
Aku tahu kau sering menulisi dinding belakang rumahku
Kau tulis rembulan, kembang, dan air mata
Pun kutahu
Kau berjalan dalam mimpi
(langit sunyi, bulan sunyi, bintang sunyi)
Tanpa sadar membunuh seorang lelaki dengan rindu
2016
Monday, January 18, 2016
Satu
oleh: Sutardji Calzoum Bachri
kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku
ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu
daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku
1979
*dari buku "O, Amuk, Kapak"
Subscribe to:
Posts (Atom)
