Oleh: Herlangga
Rokok yang kuhisap di ujung senja
sungguh mengingatkanku padamu. Abu-abu
berterbangan ditiup angin kemarau. Dan ketika kemarin
kita berada di pucak gunung itu.
Kau melihat samudra yang indah di sudut pagi,
ada pula sisasisa purnama di atasnya.
Sugguh kau mencintai itu. Seperti aku
mencintai setiap partikel cahaya yang meluncur ke hadapanku
serupa dirimu. Kenangan memang indah seperti
tiktok jam dinding yang mengaduk sepi
di sekelilingku. Dan ketika itu, aku melupakanmu.
Karena pedang telah mengkilat
di ujung leherku.
2012
Thursday, December 12, 2013
Tuesday, December 10, 2013
Sehalaman Komik Hitam
oleh: Hasan Asphani
Hingga setengah pertunjukan, kita masih
memainkan adegan tanpa perbincangan.
Di balon percakapanmu kau mengatur
sejumlah konsonan. Seperti tak faham,
aku telah lama tak tahu apa mau dikatakan.
Lalu halaman cuma hitam. Cahaya karam.
Kau tahu, tak? Ada yang terkekeh Membaca,
kita yang terjebak adegan. Tanpa perbincangan.
*dari antologi "Telimpuh"
Hingga setengah pertunjukan, kita masih
memainkan adegan tanpa perbincangan.
Di balon percakapanmu kau mengatur
sejumlah konsonan. Seperti tak faham,
aku telah lama tak tahu apa mau dikatakan.
Lalu halaman cuma hitam. Cahaya karam.
Kau tahu, tak? Ada yang terkekeh Membaca,
kita yang terjebak adegan. Tanpa perbincangan.
*dari antologi "Telimpuh"
Saturday, December 7, 2013
Analogi Anak-anak
oleh: Herlangga Juniarko
Marah hanyalah beberapa anak kecil yang lepas dari pandangan ibunya di pembaringan
Sedangkan anak-anak itu pasti akan kembali ke pangkuan ibunya ketika malam telah tergenang di langit
Jadi tak perlulah ikut berkeliaran dan melepaskan dirii dari pandangan sang ibu
Karena kesabaran adalah ibu yang rela melepaskan anaknya hilang dari pandangan dan mennunggunya hingga purnama membentang
Dan pertikaian kita kini hanyalah pertemuan senja dan malam yang sedari dulu selalu di perbincangkan oleh anak dan ibunya ketika berjumpa
2012
Marah hanyalah beberapa anak kecil yang lepas dari pandangan ibunya di pembaringan
Sedangkan anak-anak itu pasti akan kembali ke pangkuan ibunya ketika malam telah tergenang di langit
Jadi tak perlulah ikut berkeliaran dan melepaskan dirii dari pandangan sang ibu
Karena kesabaran adalah ibu yang rela melepaskan anaknya hilang dari pandangan dan mennunggunya hingga purnama membentang
Dan pertikaian kita kini hanyalah pertemuan senja dan malam yang sedari dulu selalu di perbincangkan oleh anak dan ibunya ketika berjumpa
2012
Friday, December 6, 2013
Jati Diri Sastra dalam Masyarakat
oleh: Herlangga Juniarko
Sastra
merupakan salah satu bentuk seni yang berupa bahasa. Dalam masyarakat, bahasa
merupakan bagian penting dari kehidupan. Bahasa menjadi alat komunikasi
masyarakat secara keseluruhan, sehingga sastra pun menjadi bagian penting yang
membangun perkembangan bahasa. Dengan
begitu, sastra tidak akan terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Perkambangan
sastra berbanding lurus dengan kehidupan berbahasa manusia. Sastra yang dapat
berfungsi sebagai hiburan mampu dengan mudah diterima masyarakat. Hal itu
terjadi karena manusia pada dasarnya menyukai keindahan dan sastra merupakan
keindahan berbahasa.
Dalam
masyarakat, sastra memiliki beberapa fungi tersendiri. Pertama, sastra yang
tercipta pada masyarakat akan memperlihatkan kehidupan masyarakat berfungsi
untuk menilai masyarakat tersebut. Kedua, sastra dapat menggerakkan masyarakat
untuk melakukan suatu hal menurut keinginan si pembuat sastra. Ketiga, sastra
dapat memperlihatkan masa depan dari suatu masyarakat.
Sastra yang
tercipta pada suatu masyarakat merupakan cerminan dari masyarakat tersebut pada
saat itu. Sebagai contoh, jika suatu masyarakat merupakan masyarakat yang
melankolis, maka sastra yang terbentuk pun akan menjadi melankolis. Begitu juga, jika suatu masyarakat merupakan masyarakat yang bebas, maka
sastra yang terbentuk pun akan penuh dengan gebrakan kreatif.
Wednesday, December 4, 2013
Volt
oleh: Herlangga Juniarko
Lelaki itu telah menemukan voltnya
Ketika senja ia selalu terkenang dan menyesal bertemu dengannya
Karena tak ada kata-kata hangat terhampar
Atau barisan puisi yang menghantar
“Esok, aku ingin sekedar menanyakan kabarnya” katanya
Kala senja masih terisi kenangan dan sesalan
Tapi esok,
Ketika tanggal telah luluh dan di hadapannya volt
Bibirnya seakan terkunci sunyi
Dan waktu benar-benar sepi
“Selamat tinggal” volt berlalu
“Semoga kita bertemu lagi esok” jawabnya dalam hati
Meraka (mungkin) akan bertemu lagi esok
“Aku ingin sekedar menanyakan kabarnya esok” katanya (lagi) dalam hati
Selalu ketika senja hanya berisi kenangan dan sesalan
2013
Lelaki itu telah menemukan voltnya
Ketika senja ia selalu terkenang dan menyesal bertemu dengannya
Karena tak ada kata-kata hangat terhampar
Atau barisan puisi yang menghantar
“Esok, aku ingin sekedar menanyakan kabarnya” katanya
Kala senja masih terisi kenangan dan sesalan
Tapi esok,
Ketika tanggal telah luluh dan di hadapannya volt
Bibirnya seakan terkunci sunyi
Dan waktu benar-benar sepi
“Selamat tinggal” volt berlalu
“Semoga kita bertemu lagi esok” jawabnya dalam hati
Meraka (mungkin) akan bertemu lagi esok
“Aku ingin sekedar menanyakan kabarnya esok” katanya (lagi) dalam hati
Selalu ketika senja hanya berisi kenangan dan sesalan
2013
Subscribe to:
Posts (Atom)
