herlangga juniarko

Powered By Blogger

Monday, December 3, 2012

Tentang Hidup

oleh: Supriyati

Milik manusia yang paling berharga adalah hidupnya
Hidup hanya diberikan satu kali saja
Karena itu ia harus hidup
Tanpa harus merasa malu atau takut
Pada masa lalunya
Maka hiduplah sedemikian
Sehingga tak akan ada siksaan
Selama bertahun-tahun tanpa tujuan
Dan arah yang pasti
Sehingga pada saatnya dipanggil dapat berkata:
"Seluruh hidup dan kekuatan saya
telah saya berikan bagi tujuan utama dunia ini
Yaitu kebebasan manusia"


1992

Senandung Malam Dalam Kamar

:Jo

Malam sedikit saja berganti
Juga matahari yang belum sempat tersingkap dari balik Gunung Geulis
Dan senandungku menyertaimu dari balik kamar kenangan

Jo, disini pula
Kartukartu magis masih berserakan beserta
Jebakanjebakan yang sempat ditinggalkan sang waktu kala subuh
Monstermonster masih menghantui dari kotak pandora

Jo, disini pula
Kita sering beradu sengit bagaikan naganaga yang sering kau lepaskan
Melawan keegoisan dari manusia berjubah serangga ini
Beradu melawan waktu hingga senja menikam

Sayupsayup dari balik pintu kamar
Sang izrail kembali mengetuk pintu itu
Untuk kesembilanbelas kalinya


Bandung, 3 Desember 2012

Sunday, December 2, 2012

Di Stasiun Bandung

oleh: Dami N. Toda

inilah kota yang berlari untuk kita, Agneta
dengus kereta pulang untuk kembali berlari

inilah kebisuan licik mengintai tiap penumpang
pengantar hanya boleh sampai di mulut kereta
kembali pulang tersendat air mata perpisahan

kau tahu Agneta
dalam melupakan diri sendiri
buat menyebut namamu: Agneta, Agneta manis
kerongkonganku telah mereguk racun macam tuak
menyeringai pemabuknya?
kau bisu, Agneta
bisunya batu kuburan kepada angin
Agneta!

detik berkerumun dan kejaran di pintu
pengantin istirah, Agneta, Agneta manis
tempat dan waktu berpaling satu-satu
aku lelaki buru waktu sekarang
lepaskan pelukanku yang dingin
biarkan orang hidup melarikan dunianya ke Yogya, ke Surabaya

nah, Agneta, Agneta sayang
sudah jam berangkat
kubelai kemboja-kemboja rambutmu dengan kasih sayang
mengisahkan namamu di tiap persinggahan
kita mengatup tangan sekarang
sampai ketemu kembali
selamat tinggal
selamat berpisah


November 1964

Balada Andromeda dan Ahasveros

oleh: Ahasveros

Pengembaraan itu telah berakhir
Dengan sebuah hasrat dalam dada
Dan sebuah kembang berwarna di atas pohon keabadian
Sedang rumput-rumput terus bergoyang menunggu
Jam yang mendentangkan waktu
Selagi Ahasveros mencumbunya
Tanpa tatapan, sentuhan, dan pikiran
Hanya rasa di palung dada

Ahasveros mendatangi Andromeda dengan seribu kata
Sedang Andromeda masih mencari tenunan emas lampau yang telah rusak
Di balik ragu akhir pengembaraan
“Apakah ini yang tak sempat tergores dalam hidupku?”
—Ahasveros melayangkan simbol pada Andromeda—

Di mata Ahasveros terukir ragu
Dan Andromeda masih terjebak di sejarah lampau
Membatu mereka di atas besi rel yang panas
Dengan berbagai simbol muncul dari kepala mereka
“Apakah dia?”
Tuhan masih diam di atas batu ketidakpastian
Awan-awan cinta mulai menaungi besi yang memanas
Hujan turun menembus payung ragu mereka

Mereka saling berpandang, hanya sekali
Sudah itu tak ada lagi
Hanya sebuah suara yang ada
Dari dalam dada

Ahasveros meyakini akhir pengembaraan dunianya
Ia tahu, setelah dunia ia kelilingi
Untuk medapat rasa yang belum terjamah
Di balik palung dadanya

Andromeda masih memegang sisa tenunan emas lampau itu
Namun tak ingin terjebak dalam dunia kelam
Sedang dadanya sudah ingin menerima
Ragu masih ada di dadanya
“Apakah kau sungguh-sungguh?”
Ia memandang kembali mata Ahasveros
Di tangannya masih ada sebuah tenunan emas lampau
Dan segumpal awan harapan

Mata mereka bertemu kembali, lebih dalam
Sebuah cincin mulai melingkari jari Andromeda
Bersama sejuta harapan Ahasveros
Merangkai jemari Andromeda laksana kembang bermekaran
Senyum mereka mengembang dan tertanam dalam
Bagai akar di tanah gersang

Tuhan tersenyum dari langit
“Waktu belum sampai pada jam yang tepat”
Hujan berhenti seketika itu
Namun awan cinta semakin padat di atas sana

“Akankah kau menerimaku?”
—Ahasveros meragu kali itu—
Andromeda menerima sebuah cincin dengan sejuta makna
Sedang ragu mereka telah padam oleh hujan dari Tuhan

Waktu bergulir terus hingga jam tepat berdentang
Ahasveros menunggu sebuah tangan dari Andromeda
Dengan segumpal awan harapan


Bandung, 19 Mei 2012

Penyair Anwar

oleh: Afrizal Malna

Aku mengaji, anwar anwar
hidup dari pasar terbuka dalam tubuh
Orang tanah yang mengutip senja, anwar, anwar
Seperti kura, membuat cerita dari tiang-tiang pasir
Seperti telur, kalau langit adalah sebongkah batu

Aku tak pernah berjanji denganmu, untuk berkunjung

Di sebuah kota yang tak mengenal tubuhmu

Tersandar di sebuah tikungan, satu kilometer lebih cepat
Aku tak pernah berencana denganmu, anwar, anwar
Tapi kita di sini juga, sebuah foto menguning dalam dompet
Suara serdadu, bunyi ember, sisa-sisa rambut di kasur

Ucapanku telah jadi batu juga, anwar, anwar

Ada suara ibu

Seperti jalinan suara pada setiap benda
Anwar membuat kota asyik sendiri
Menyimpan diri dalam setiap kata
Jadi penyair di luar sana, anwar, anwar

Aku berlalu dari cerita

Seperti gumpalan tanah dalam mulutmu


1983