Oleh: Herlangga Juniarko
Saat
ini adalah malam, malam yang begitu ramai untukku, dengan lampu-lampu taman
yang redup seakan hampir padam tertelan malam dan pohon-pohon yang tidak begitu
rindang menghiasi malam yang dingin di taman kota. Dan aku disini dengan kemeja
putih yang tidak dimasukkan kedalam celana katun hitam dan dibalut oleh jas
hitam khas orang kantoran, karena aku kini bekerja sebagai editor majalah
lokal.
Mungkin
saat ini orang-orang sedang bergulat dengan mimpinya masing-masing sambil ketenangan
yang damai mereka dapatkan. Namun di sini, aku sedang menenenangkan hatiku yang
tengah risau bersiap menunggu jawaban, jawaban yang akan menuntunku kearah yang
lebih baik yang akan diberikan oleh seseorang yang dikasih, menenangkan diri
dari setiap kemungkinan yang terjadi pada malam ini. Dalam ragu aku mencoba
mendekati seseorang yang cantik nan jelita yang tengah duduk di bangku taman
yang terbuat dari adukan semen yang entah mengapa seperti selalu menyejukan
hati siapapun yang duduk di atasnya. Dan dia yang dikasih tengah ada di sana
dengan setiap khayalan yang hanya datang secara tiba-tiba.
Saat
aku mencoba mendekati yang dikasih, dadaku tiba-tiba seperti menghentikanku
bagaikan petir yang menyambar tiang yang sudah kokoh dan mantap pada pendiriannya,
petir yang membuat aku sakit di seluruh tubuh. Dan dalam pikiran-pikiran
negatif yang menderaku, aku kembali melihatnya, dengan kacamata kotak layaknya
orang berilmu, dengan kemeja putih yang terlihat lebih tebal dari kemeja
biasanya, dengan rok hitam yang kontras dengan kemejanya menutup hingga kedua
mata kakinya. Mungkin kini dia sudah mulai mencari keberadaanku sambil
meleburkan pikiran di malam yang indah ini.
