herlangga juniarko

Powered By Blogger

Thursday, September 27, 2012

Games



“Dodi!” Panggil Ibu.
            Dodi saat itu sedang bermain game konsol barunya tak menghiraukan panggilan ibunya itu. Game itu baru saja dibeli oleh ayah Dodi sebagai hadiah karena Dodi berhasil mendapatkan nilai sempurna di ulangan matematikanya.
            Harapan ayah Dodi adalah dengan hadiah tersebut Dodi semakin rajin lagi belajar dan bersemangat untuk sekolah, namun Dodi malah menjadi maniak game.
            “Dodi! Ayo makan” seru ibu lagi dari ruang makan.
            “Sebentar, Bu. Lagi nanggung nih” jawab Dodi sambil terus bermain game barunya itu.
            Sekarang setiap hari Dodi terus bermain game
tanpa belajar. Setiap hari sepulang sekolah Dodi langsung pergi ke kamarnya untuk bermain game, terkadang sampai lupa makan dan bermain sampai larut malam sehingga keesokan harinya Dodi terlambat bangun tidur. Setiap perkataan Ayah dan Ibunya selalu ia hiraukan.
            “Ayah, sebaiknya kita jual lagi saja game itu.” Kata Ibu ketika malam bersama Ayah Dodi.
            “Hmmm, benar juga, sebaiknya saya jual lagi saja game itu agar Dodi tidak menjadi maniak game lagi.” Kata Ayah membenarkan.
            “PRAKK” suara pintu kamar Dodi terbuka dengan keras.
            “Tidak, aku ngga mau kalo gamenya dijual lagi, kalo masih mau dijual Dodi ngga mau sekolah lagi!” Dodi berteriak sambil menutup pintu kamarnya dengan kencang.
            Akhirnya Dodi tidak keluar kamar sama sekali kecuali ingin makan. Itu pun ia lakukan ketika keadaan rumah sedang sepi sehingga tidak ada yang melihatnya. Sedangkan Ibu dan Ayah terus membujuk Dodi untuk kembali sekolah sambil terus meminta maaf kepada Dodi, tetapi Dodi tidak menghiraukannya.
            “Dodi, Ayah minta maaf, gamenya ga akan dijual lagi deh, asalkan Dodi kembali sekolah.” Rayu Ayah seperti biasa kepada Dodi
            “Dodi ngga mau sekolah lagi. Dodi ngga mau gamenya dijual lagi!” Teriak Dodi dari kamarnya.
            Setiap hari kamar Dodi selalu terlihat menyala dari luar karena gamenya tidak pernah dimatikan dan selalu dimainkan. Ayah dan Ibu Dodi semakin khawatir dengan hal itu. Mereka terus membujuk Dodi untuk segera keluar kamar dan kembali sekolah karena Dodi akan terlalu jauh tertinggal pelajaran setelah seminggu tidak masuk sekolah.
            “Dodi, nanti kalau mau keluar Ibu bikinin kue kesukaan Dodi deh, keluar ya sayang.” Rayu Ibu kepada Dodi
            “Dodi tetep ngga mau keluar, Dodi mau main terus disini!” Teriak Dodi dari kamarnya yang sudah mulai tak karuan bentuknya.
            Malam itu Dodi terus bermain game sampai larut malam, rencananya malam ini dia ingin begadang untuk menyelesaikan salah satu dari game petualangannya itu. Dodi bermain begitu serius hingga lewat jam 12 malam dan pandangannya sudah sangat lelah namun dia masih dapat melihat permainannya dengan baik.
            Tiba-tiba Dodi merasakan bahwa badannya sudah tak berbentuk lagi. Dia merasa bahwa sekarang dia masuk ke game itu dan berubah menjadi digital.
            “Hai Dodi” sapa dari tokoh dalam game itu.
            “Hah, kenapa aku jadi kayak game gini?” Tanya Dodi.
            “Kamu sudah masuk ke dalam game, Dodi. Kamu masuk karena terlalu banyak memainkan kami. Kami hanya ingin memberitahumu bahwa kamu sudah kelewatan memainkannya. Kami pun butuh istirahat!” Kata tokoh game itu menasihati Dodi.
            “Oh begitu, baiklah. Maafkan aku yah karena membuat kalian begitu cape.” Kata Dodi sambil meminta maaf.
            “Tidak apa-apa kok, tapi ingat yah. Kami pun butuh istirahat jadi jangan terlalu sering memainkan kami.” Kata tokoh game itu.
            Pagi harinya Dodi terbangun dari tidurnya dan langsung melihat gamenya sudah mati. Dodi pun membuka pintu dan langsung memeluk Ayah dan Ibunya.
            “Ayah, Ibu, maafin Dodi yah udah bikin khawatir. Sekarang Dodi janji deh ga bakal terlalu sering main game lagi.” Dodi meminta maaf pada Ayah dan Ibunya.
            “Main boleh, asal jangan lupa waktu ya sayang.” Kata Ibu.
            “Iya, yang penting itu harus tetep rajin belajar untuk masa depanmu.” Sambung Ayah.
            Sejak saat itu Dodi pun menjadi rajin belajar dan kembali menjadi yang terbaik lagi di kelasnya. Sedangkan gamenya masih sering dimainkan namun Dodi tidak lupa mengatur waktunya dengan baik. Dan tidak lupa untuk memberi istirahat pada gamenya itu agar tidak mudah rusak.


2012

No comments:

Post a Comment