herlangga juniarko

Powered By Blogger

Monday, March 19, 2018

Batas

Oleh: Aan Mansyur

Semua perihal diciptakan sebagai batas. 
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. 
Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara, dan kantor wali kota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita. 

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisahkan kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.

Seorang ayah membelah anak dari ibunya— dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.



* diambil dari bukunya yang berjudul "Tidak Ada New York Hari Ini"
** puisi ini pun dibacakan oleh Nicholas Saputra dalam film "Ada Apa Dengan Cinta 2"


Friday, March 9, 2018

Yang Abadi di Kaca Jendela

oleh: Herlangga

Hujan menderas. Bising pada genting dan jendela
dan aku merasa sendiri padahal ruang diributi hujan dan kenangan

Kenangan dan matamu di kaca jendela adalah keabadian
Meski hujan terus membentur-benturkan dirinya serupa cahaya lampu kota yang jatuh dan berceceran di jalan
Lalu kau di ruang imaji seakan berkata
"apalagi yang abadi di kaca jendela itu?"
Retoris!
Aku tak perlu menjawabnya
Sungguh tak ada lagi yang abadi, kecuali matamu yang sempat membendung katakata dan merubahnya menjadi hujan

Dari jauh, guntur mengilatkan cahaya
Dirimu jatuh menjadi genangan


2017

Saturday, October 21, 2017

Di kereta, Hujan Menjadi Kau

Oleh: Herlangga

Kereta Senja. Wajahmu di kaca jendela
Hujan selalu melambatkan waktu meski senja runtuh di hadapan kita
Kita memang tak pernah bisa memercayai jadwal datang dan pergi kereta
Sementara rel kembali basah karena kenangan

Langit merintik. 
Hujan terkadang menjebak kita dalam kenangan
"Mungkin hujan itu cemburu pada kita"
katamu seperti peramal ulung setelah petir memecah sunyi

Namun langkahmu tibatiba gemuruh di jantungku
Mungkin kau pun tak ingin lagi dicemburui langit
Sehingga pergi adalah cara terbaik meruntuhkan hujan
Sedang aku lebih ingin hujan itu meruntuhkan bulan ketimbang senja
Jika saja aku tahu, di jarimu akan menggelang bulan yang mencekikku


2016

Saturday, October 14, 2017

Gaun Pengantin

Oleh: Herlangga

Musim hujan. Kau dan gaun pengantinmu
Pada akhirnya memadamkan api di rangka tubuhku
Kemudian menyalib jantungku

Pada hari penghisaban yang telah ditentukan
Kau pun bertanya:
"Seberapa besar api di tubuhmu?"
Akhirnya kau menjadi rintik hujan pada tanahtanah basah
Kenangan kemudian menjadi hal paling purba antara kita

Aku menjawab:
"Apa masih ada ruang di jari manismu?"
Saat itu, kulihat akar yang melingkar di jarimu
Juga menggelang di leherku


2017


Monday, September 4, 2017

Komposisi Desember (2)

Natal ini menetes darah katakata setelah disalib puisi
Karena kesepian menjadi lebih runcing dari kenanganmu

Kenanganmu. Pesan yang masih tersimpan dalam kotakkotak ingatan
‌Juga senyummu yang kunang-kunang
‌menjadi belati pada ujung nadi dan segala imaji terdiri dari: 
senyummu yang asing,
senja yang memudar,
rusukku yang patah,
dan segala kebodohanku

‌Oh, aku lupa telah meninggalkan harapan
pada dirimu. Aku ingin mengambilnya kembali
Jadi, bisakah kita bertemu?


Bandung, 27 Desember 2016
Herlangga Juniarko
*diambil dari antologi puisi "Hujan. Terima Kasih"