oleh: Herlangga
Ah cintaku, pagi ini tiba-tiba kau kabut
Aku ingat kau pernah berkata
“Ini semua hanyalah ilusi waktu”
Aku masih tidak percaya
Bagaimana mungkin kau bisa menjadi kabut
Bukankah kemarin kau masih menjadi fana
Lalu kau berkata dalam romansa
“Ilusi waktu akan terus mengikismu sedikit demi sedikit, sayangku”
Aku masih tidak percaya
Bagaimana mungkin kau menjadi setipis kabut
Kabut itu masih setipis kerudung yang sering kau pakai
Aku tahu karena langit masih teduh sepertimu
Lalu aku menyaksikan kau perlahan menjadi cahaya
Friday, September 2, 2016
Friday, August 5, 2016
Langit Masih Menjadi Rahasia, Katanya
oleh: Herlangga
: Riski Riyadi
lelaki yang bergitar itu masih melantunkan sendu
matanya sobekan matahari senja
senar gitar adalah kenangan yang ia petiki sedikit demi sedikit
nadanada yang nanar
ada yang ingin keluar dalam ruangan yang remang
ah, kenangan adalah remangremang lampu,
sisa abu rokok di dalam asbak,
juga kopi hitam antara pekat malam
sekali waktu ia bercerita
mengenai cinta (mungkin)
yang ia lupa kapan
aku tahu. Ia juga menyembunyikan langit
di bawah bantal atau ranjangnya
setelah ruangan yang sesak emosi itu gelap
(ah ada air di dalamnya, entah darimana)
31 Juli 2016
: Riski Riyadi
lelaki yang bergitar itu masih melantunkan sendu
matanya sobekan matahari senja
senar gitar adalah kenangan yang ia petiki sedikit demi sedikit
nadanada yang nanar
ada yang ingin keluar dalam ruangan yang remang
ah, kenangan adalah remangremang lampu,
sisa abu rokok di dalam asbak,
juga kopi hitam antara pekat malam
sekali waktu ia bercerita
mengenai cinta (mungkin)
yang ia lupa kapan
aku tahu. Ia juga menyembunyikan langit
di bawah bantal atau ranjangnya
setelah ruangan yang sesak emosi itu gelap
(ah ada air di dalamnya, entah darimana)
31 Juli 2016
Saturday, July 30, 2016
NEET
"Sampah"
ah pada akhirnya, ia mendengar
Jarum jam menusuk dada dan kepala
"Sampah.
ah pada akhirnya, ia mendengar
Jarum jam menusuk dada dan kepala
"Sampah.
Seharusnya buang saja ke tong sampah", katanya
Sambil mengasah tangan pada leher dan nadi
Ia sudah kehabisan ruang dan tali
Bahkan untuk pulang pun tak ada tali
Pikirnya.
2016
Sambil mengasah tangan pada leher dan nadi
Ia sudah kehabisan ruang dan tali
Bahkan untuk pulang pun tak ada tali
Pikirnya.
2016
Herlangga Juniarko
Sunday, July 3, 2016
Perih
oleh: Herlangga
Sepanjang jalan, macet membawa perih
“Tidak,” katamu.
Perih adalah jarak tak kasat mata antara kita
Kemudian bianglala berputar di atas kepala
Sudah seminggu tangan ini berdarah
Tersayat kata saat mengupas puisi
Dan menghasilkan perih
Kau tahu, darahku tak pernah melihatmu
Dalam dekade. Ia masih merindui perih
2016
Sepanjang jalan, macet membawa perih
“Tidak,” katamu.
Perih adalah jarak tak kasat mata antara kita
Kemudian bianglala berputar di atas kepala
Sudah seminggu tangan ini berdarah
Tersayat kata saat mengupas puisi
Dan menghasilkan perih
Kau tahu, darahku tak pernah melihatmu
Dalam dekade. Ia masih merindui perih
2016
Wednesday, May 4, 2016
Sekedar Kunang-kunang
oleh: Herlangga
Celaka!
Aku masih mengingat hari ketika pertamakali orangtuamu tersenyum karenamu
Hari yang kau (sempat aku) keramatkan
Tak Mungkin!
Bayanganmu masih lekat pada imaji
Tak bisakah kau sekedar menjadi kunangkunang dalam belenggu waktu?
Karena sungguh!
Aku tak ingin kunangkunang kembali menjadi kupu
Jadi, tak bisakah kau sekedar menjadi kunangkunang dalam ruang kenangan?
27 April 2016
Celaka!
Aku masih mengingat hari ketika pertamakali orangtuamu tersenyum karenamu
Hari yang kau (sempat aku) keramatkan
Tak Mungkin!
Bayanganmu masih lekat pada imaji
Tak bisakah kau sekedar menjadi kunangkunang dalam belenggu waktu?
Karena sungguh!
Aku tak ingin kunangkunang kembali menjadi kupu
Jadi, tak bisakah kau sekedar menjadi kunangkunang dalam ruang kenangan?
27 April 2016
Subscribe to:
Posts (Atom)

