herlangga juniarko

Powered By Blogger

Wednesday, April 1, 2015

Komposisi Desember

oleh: Herlangga

Di stasiun Rancaekek, pisau sunyi menancap kejam dalam sekali
tusukan. Kata-kata mengunci diri dalam hati.
Selepas itu kenangan tertinggal dalam gerbong menjelma kau.
dan aku terpaku menyesali diri ketika jejak-jejakmu tak sempat
kupunguti dan tersapu dalam sepi.

Sudah tiga bulan sejak penghujan datang dan membawamu pergi.
Kini Desember datang dan membawa segala tentangmu
Di dalamnya:   pisau sepi yang telah tercabut dari jantungku, panah
                        patah eros, kunci yang sempat mengunci kata, jejak-jejak
                        yang sempat tersapu, juga bayanganmu dalam cermin waktu

Dan hujan akhir tahun mengukir wajahmu seperti ribuan kembang api yang
jatuh berwarna dan berwarni, kemudian gelap seketika.


Desember 2012


Thursday, March 19, 2015

Episode Gerimis

oleh: Herlangga

Gerimis masih mengepung stasiun tua ini.
Dan cleaning service masih juga membersihkan sisa-sisa
akting para bintang dari istana malam, tepat di sebelah kanan

cleaning service itu berkaca pada lantai yang baru saja ia bersihkan
“kau masih kotor!” teriaknya pada lantai
“kau lebih kotor!” teriak lantai lebih tinggi
Dan perdebatan itu tak kunjung selesai hingga laba-laba menenun
jaringnya di tangan cleaning service itu, juga kotoran laba-laba yang jatuh ke lantai.
Gerimis pun usai.


2012

Monday, March 16, 2015

Doa

oleh: Herlangga

Tuhan, demi cahaya matahari pada ufuk timur
mungkin aku adalah serpihan Kau dari kekelaman

maka bagiku, Kau adalah kutukan yang nyata
dan Kau masih menerima doa dari sudut gelap
meski doa bagiku hanyalah pelampiasan

Tuhan, terkadang aku bingung
ciptaan-Mu yang manakah yang paling menyakitkan
api neraka atau cinta?


2013

Tuesday, February 24, 2015

Daun-daun yang Berguguran Saat Senja

oleh: Herlangga


Senja ini aku teringat padamu, Rinjani. Awan yang berarak-arak menyapu kemilau matahari kemudian membuat suasana menjadi sayup. Warna langit berubah seketika menjadi melankolis. Itu semua membuatku teringat padamu.
            Di luar gerimis membuat senja semakin muram. Besi-besi yang beradu dan bergesekan dengan rel yang sempat panas membuat tubuhku terguncang sedikit. Inilah kereta yang mengantarkan jiwa-jiwa penuh rindu. Deru mesin terus bergelora membahana hingga memecah malam yang hendak terbit dari sela-sela siluet senja. Tetapi sekarang masih senja, Rinjani. Dan aku terus teringat padamu.
            Pada kaca jendela kereta, bukan pemandangan yang terhampar bebas di luar dan sehamparan pohon-pohon rindang yang membuatku terpesona, tetapi bayangan dirimu yang tak juga pergi dari kedalaman otakku dan tercerminkan di kaca jendela yang membuatku merasa bahagia. Apakah kau masih mengingatnya? Ciuman pertama kita yang terjadi ketika senja di bawah sebuah pohon rindang yang tidak aku tahu namanya, namun daun-daunnya terus berguguran tiada henti serupa gerimis.
***
“Hei, apakah kau tahu mengapa daun dari pohon ini selalu berguguran saat senja?” tanyamu saat itu.

Sunday, February 15, 2015

Kepada Siapa

oleh: Herlangga

Senja dan malam pada langit yang sama
Kau dan aku masih duduk di beranda

Kau bertanya,
“Apa yang lebih tinggi dari Bima Sakti?”
Aku ingin sekali menjawab
Tapi aku tahu, kau telah mengetahui jawabannya
Karena pada akhirnya kita memercayai bahwa semesta ini sejajar.

“Kita memercayai itu setelah berdebat tentang batas atas dan bawah langit”

Namun begitu, tetap saja.
“Aku ingin menikahimu, Rin.” kataku
“Haha, itu mudah saja” katamu
“Tergantung kepada siapa kau berdoa” kau menjawab seperti itu.


Desember, 2014