Saturday, October 13, 2012
Sajak SLA
oleh: WS Rendra
Murid-murid mengobel klentit ibu gurunya
Bagaimana itu mungkin ?
Itu mungkin.
Karena tidak ada patokan untuk apa saja.
Semua boleh. Semua tidak boleh.
Tergantung pada cuaca.
Tergantung pada amarah dan girangnya sang raja.
Tergantung pada kuku-kuku garuda dalam mengatur kata-kata.
Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang.
Ibu guru ingin hiburan dan cahaya.
Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor.
Dan juga ingin jaminan pil penenang,
tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan oleh dokter.
Maka berkatalah ia
Kepada orang tua murid-muridnya :
“Kita bisa mengubah keadaan.
Anak-anak akan lulus ujian kelasnya,
terpandang di antara tetangga,
boleh dibanggakan pada kakak mereka.
Soalnya adalah kerjasama antara kita.
Jangan sampai kerjaku terganggu,
karna atap bocor.”
Dan papa-papa semua senang.
Di pegang-pegang tangan ibu guru,
dimasukan uang ke dalam genggaman,
serta sambil lalu,
di dalam suasana persahabatan,
teteknya disinggung dengan siku.
Demikianlah murid-murid mengintip semua ini.
Inilah ajaran tentang perundingan,
perdamaian, dan santainya kehidupan.
Ibu guru berkata :
“Kemajuan akan berjalan dengan lancar.
Kita harus menguasai mesin industri.
Kita harus maju seperti Jerman,
Jepang, Amerika.
Sekarang, keluarkanlah daftar logaritma.”
Murid-murid tertawa,
dan mengeluarkan rokok mereka.
“Karena mengingat kesopanan,
jangan kalian merokok.
Kelas adalah ruangbelajar.
Dan sekarang : daftar logaritma !”
Murid-murid tertawa dan berkata :
“Kami tidak suka daftar logaritma.
Tidak ada gunanya !”
“kalian tidak ingin maju ?”
“Kemajuan bukan soal logaritma.
Kemajuan adalah soal perundingan.”
“Jadi apa yang kaian inginkan ?”
“Kami tidak ingin apa-apa.
Kami sudah punya semuanya.”
“Kalian mengacau !”
“Kami tidak mengacau.
Kami tidak berpolitik.
Kami merokok dengan santai.
Sperti ayah-ayah kami di kantor mereka :
santai, tanpa politik
berunding dengan Cina
berunding dengan Jepang
menciptakan suasana girang.
Dan di saat ada pemilu,
kami membantu keamanan,
meredakan partai-partai.”
Murid-murid tertawa.
Mereka menguasai perundingan.
Ahli lobbying.
Faham akan gelagat.
Pandai mengikuti keadaan.
Mereka duduk di kantin,
minum sitrun,
menghindari ulangan sejarah.
Mereka tertidur di bangku kelas,
yang telah mereka bayar sama mahal
seperti sewa kamar di hotel.
Sekolah adalah pergaulan,
yang ditentukan oleh mode,
dijiwai oleh impian kemajuan menurut iklan.
Dan bila ibu guru berkata :
“Keluarkan daftar logaritma !”
Murid-murid tertawa.
Dan di dalam suasana persahabatan,
mereka mengobel ibu guru mereka.
Yogya, 22 Juni 1977.
Tuesday, October 9, 2012
Lelaki yang Dicintai Bidadari
oleh: Hasan Asphani
TADI malam, kupelajari isyarat kepak sayapmu
agar tak terlambat
bila harus kujemput kau di langit ketujuh ratus.
TADI malam kutemukan sisa-sisa bulu sayapmu
putih dan basah, mungkin ada air mata yang tumpah.
PADA malam, kusimpan sebuah gumam:
akulah lelaki yang dicintai bidadari
kaukah bidadari itu?
(dari antologi Lelaki yang Dicintai Bidadari)
Hei, Kamu
oleh: WS Rendra
Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.
Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
Jakarta, 29 Pebruari 1978
Thursday, October 4, 2012
Memoar Kehilangan
oleh: Sabiq Carebesth
Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga
kenangan, yang tertanam di tanah paling dalam dari ingatan;
kehilangan-kehilangan adalah bukan luka yang menyakitiku,
tapi ingatan akan terempasnya waktu. Kini kupegangi seutas
tali paling halus; untuk menggambar nyata; melukis keabadian;
bahwa engkau mulia dalam apa yang engkau kehendaki,
engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan
Jakarta, 08 mei 2010
Memar yang melanda memoar adalah sekuntum bunga
kenangan, yang tertanam di tanah paling dalam dari ingatan;
kehilangan-kehilangan adalah bukan luka yang menyakitiku,
tapi ingatan akan terempasnya waktu. Kini kupegangi seutas
tali paling halus; untuk menggambar nyata; melukis keabadian;
bahwa engkau mulia dalam apa yang engkau kehendaki,
engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan
Jakarta, 08 mei 2010
Wednesday, October 3, 2012
Produk Dalam Negeri
Produk dalam negeri
Produk dalam negeri kian lama kian
tergusur oleh produk-produk impor, karena masyarakat yang semakin membeli
berdasarkan gengsi. Padahal sebenarnya produk indonesia lebih baik dan lebih
berkualitas daripada produk impor, namun masyarakat yang sudah terjejali dengan
slogan dari iklan-iklan impor tidak mampu menahan gejolak pergengsian yang ada
di tengah masyarakat.
Arie : Man, kamu kemarin habis
beli apa sih dari pasar sana?
Maman: oh, kemarin saya baru beli barang-barang buat ruang tamu
Arie : barang impor yah?
Maman: enggalah, saya kan suka barang buatan indonesia
Arie : barang buatan indonesia kan
kualitasnya belum terjamin
Maman: eis, jangan salah ri, barang indonesia itu sebenarnya sangat terjamin
kualitasnya
Arie : kenapa? Kok bisa gitu?
Maman: kamu lihat saja furnitur yang baru saya beli kemarin, bagus kan?
Arie : itu kan mereknya olimpic,
bukannya itu barang impor alias dari luar negeri?
Maman: olimpic itu sebenarnya buatan orang kita, orang indonesia ini. tetapi
karena olimpic sudah terkenal sampai ke
mancanegara, jadilah olimpic mempunyai kesan impor
Arie : oh...
Maman: sebenarnya masih banyak lagi sih produk-produk indonesia yang sudah
melanglang buana sampai ke mancanegara.
Arie : apalagi?
Maman: kamu tahu indomie, batre ABC, sampai minuman extra joss? Semua itu
adalah sebagian dari produk indonesia yang
sangat sukses sampai mendunia
Arie : ternyata banyak juga yah
Maman: tentu saja banyak, jadi belum tentu produk impor lebih baik dari
produk sendiri kan
Arie : iya, seharusnya kita bangga
dengan produk sendiri yang mampu mendunia dan berkualitas, ketimbang memakai
produk impor yang kualiatasnya masih patut dipertanyakan
Maman: jadi lebih baik kita mulai menggunakan produk sendiri agar bisa
menjadi raja di negaranya sendiri
Arie : betul sekali man...
Subscribe to:
Posts (Atom)
