herlangga juniarko

Monday, September 4, 2017

Komposisi Desember (2)

‌oleh: Herlangga

Natal ini menetes darah katakata setelah disalib puisi
Karena kesepian menjadi lebih runcing dari kenanganmu

Kenanganmu. Pesan yang masih tersimpan dalam kotakkotak ingatan
‌Juga senyummu yang kunang-kunang
‌menjadi belati pada ujung nadi dan segala imaji terdiri dari: 
senyummu yang asing,
senja yang memudar,
rusukku yang patah,
dan segala kebodohanku

‌Oh, aku lupa telah meninggalkan harapan
pada dirimu. Aku ingin mengambilnya kembali
Jadi, bisakah kita bertemu?


Bandung, 27 Desember 2016

Friday, August 11, 2017

Hiroshima

Oleh: Herlangga

Melihat kembali pesanpesan yang kau tinggalkan
Otakku mengelupaskan rindunya
Kemudian gugur seperti sakura dalam cerita kartun di layar kaca

Kau sering bercerita  bahwa bom atom di Hiroshima yang menyebabkan kemerdekaan kita
Dan aku hanya berkata kebetulan saja
Seperti juga kebetulan yang membuatku mencintaimu

Beberapa saat sebelum jarimanismu menjadi lebih manis,
Maukah kau menceritakan kembali bom hiroshima?
Siapa tahu aku bisa ikut merdeka


Agustus, 2017

Thursday, January 5, 2017

Dilatasi Waktu

oleh: HAT

Soal waktu yang berkaitan dengan perasaan
Kemudian katakata memepat menjadi distorsi hujan yang menua karna penantian
Dan mati tanpa ada persaksian
Aku sempat ingat kau berkata :
"Kematian adalah kenangan "
seraya mengibaskan rambut hitammu
Diiringi jatuh kelopak senja di tepi hujan

Ah, dukaduka yang papa. Masihkah kau di sana?
Merindu muram yang sama

Aku senantiasa mencari lekuk kesedihan dari tiap kecupmu
Wajahmu senja. Aku masih ingat juga
Meski mulai memudar diterpa senyumsenyum rekah dari bibir tipis itu

Oh, aku jatuh juga
Pada kesepian waktu tentang kita
Adakah rindu itu masih menghantui malammu?
Setelah kutikam mati anak-anak rindu itu
Lalu cahaya lampu kota pun sempat jatuh untuk mengenangmu

Nara, bagaimana kabarmu?

Panorama, 12 Desember 2016

Monday, September 26, 2016

Di Bawah Jalan Layang Pasupati

oleh: Herlangga

Menyantap cuanki di bawah jalan layang
Kemudian wajahmu menggenang di kuah mie
Di sampingnya pedagang pisang coklat
Aku tak pernah membelinya
Karena bagiku kamu lebih manis daripada seluruh gula di dunia
Kecuali gula buatan tentu saja

Ah, es kelapa di seberang jalan menyegarkan
Mungkin es kelapanya lebih nikmat dari buatanmu
Karena di dalamnya tak ada potongan rindu atau serutan cemburu
Tapi entah darimana, aku seperti menyeruput sendu
Mungkin kenangan masih tertinggal lidah

Mobilmobil di atas kepala. Di jalan layang
Aku harap ada yang mau membawakan isakmu padaku


2016

Saturday, September 24, 2016

Dermaga

oleh: Nurul Lutfia

dermaga itu menyetiai pertemuan demi pertemuan
awal kenang yang merekam tiap jejak perjalanan
pangkal dari pertemuan adalah perpisahan
selalu begitu. kau pemotret ulung
tiap pertemuan-perpisahan

suatu waktu, kau, aku akan sama-sama pergi
meninggalkan kota yang merangkum pertemuan kita 
rindu adalah dermaga harap yang kaulabuhkan tanpa isyarat
hanya larik doa yang menggantung di pantai cerita.


Bandung, 5 April 2014 


*catatan: saya masih ingat ketika membaca puisi ini di Pendopo Indramayu dulu. Sangat menyenangkan :)