herlangga juniarko

Thursday, April 12, 2018

Ujian

Oleh: Herlangga

Dalam ruangan kelas, seorang siswa dengan terang-terangan menyontek
Dalam ruangan kelas, seorang guru membiarkan siswanya menyontek
“Sudah biasa,” para siswa bilang
“Menyontek adalah korupsi. 
Dan korupsi sudah menjadi budaya Indonesia” guru itu bilang

Di tengah jalan, guru itu ditilang polisi.
Tak ada helm. Tak ada SIM. Tak ada STNK.
Kemudian disodorkannya beberapa pecah puluhan ribu.
“Untuk rokok dan kopinya, pak polisi,” kata guru itu sambil tersenyum.
“Kasihan guru, beri teguran saja dulu,” kata polisi itu.
Mereka pun berpisah.
“Ramah dan pemaaf adalah sifat asli orang Indonesia” kata polisi itu lagi
“apalagi ada rokok dan kopi”

Sepulang ke rumah, polisi itu bertemu seorang siswa yang baru lulus.
“Aku ingin menjadi polisi” kata siswa itu
“Bisa saja. Tergantung” kata polisi itu
“Lima ratus. Cukup?”
“Bisa diatur”
Segalanya bisa diatur dan direncanakan. Orang Indonesia tidaklah sembrono.
Hukum mati ditolak untuk warga Indonesia karena nantinya bisa jadi bumerang.
Cerdas.

Pun ujian bagi siswa, tak lagi tempat hasil uji belajar, tetapi tempat menguji kecerdikan.
Siapa yang paling cerdik, dia yang selamat.
Adapula yang menyebutnya ujian persahabatan. Entah mengapa.


23 April 2015 - 24 Nopember 2017


Monday, March 26, 2018

Di Selat Alas Kau Berjanji Menikam Seseorang

Oleh: Pringadi Abdi

ini tidak mungkin dipercaya, jarak sepuluh kilometer antara 
lombok dan sumbawa dapat memicu kematian

seseorang dapat ditikam, didorong ke laut lalu tenggelam
orang-orang tidak akan tahu, mereka lebih suka memikirkan
harga daging sapi, seikat kangkung, kelangkaan ikan
pada bulan purnama, juga ombak dan cuaca barat siwa
daripada negara, ketua KPK, penumpang yang terlantar di bandara 
apalagi hanya mayat, yang tak memiliki hubungan kerabat

di situlah, kadang-kadang aku merasa sedih
teringat pesan singkatmu semalam, kita tak memiliki masa silam
padahal udara pernah sangat kejam. aku ingin berteriak
tapi dadaku dibuatnya sesak, hidupku dibuatnya terisak 

terserah, bila kapal ini bernasib seperti munawar, lalu aku terdampar
melihat bekas pulau kenawa yang terbakar, dan baru
ditumbuhi belukar, aku pasrah, tetapi bukan aku yang mati

karena belum kusampaikan kata-kata yang sudah lama
menjadi bantal dalam tidurku, sambil membayangkan adegan di pasar
ketika aku tertipu, ingin membeli cumi tapi diberi gurita
itu membuatku tak terima, kau membuatku mengira
kau telah jatuh cinta padaku selama-lamanya

kepalsuan itulah yang membuatku ragu pada wanita mana saja
juga jarak mana saja, karena jarak sepuluh kilometer ini
harus kutempuh dua jam lebih lamanya, sementara
sepuluh kilometer yang lain hanya membutuhkan waktu sepuluh menit! 

5 Maret 2018


*puisi ini diambil dari Kompasiana Pringadi Abdi Surya

Monday, March 19, 2018

Batas

Oleh: Aan Mansyur

Semua perihal diciptakan sebagai batas. 
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. 
Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara, dan kantor wali kota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita. 

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisahkan kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.

Seorang ayah membelah anak dari ibunya— dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.



* diambil dari bukunya yang berjudul "Tidak Ada New York Hari Ini"
** puisi ini pun dibacakan oleh Nicholas Saputra dalam film "Ada Apa Dengan Cinta 2"


Friday, March 9, 2018

Yang Abadi di Kaca Jendela

oleh: Herlangga

Hujan menderas. Bising pada genting dan jendela
dan aku merasa sendiri padahal ruang diributi hujan dan kenangan

Kenangan dan matamu di kaca jendela adalah keabadian
Meski hujan terus membentur-benturkan dirinya serupa cahaya lampu kota yang jatuh dan berceceran di jalan
Lalu kau di ruang imaji seakan berkata
"apalagi yang abadi di kaca jendela itu?"
Retoris!
Aku tak perlu menjawabnya
Sungguh tak ada lagi yang abadi, kecuali matamu yang sempat membendung katakata dan merubahnya menjadi hujan

Dari jauh, guntur mengilatkan cahaya
Dirimu jatuh menjadi genangan


2017

Saturday, October 21, 2017

Di kereta, Hujan Menjadi Kau

Oleh: Herlangga

Kereta Senja. Wajahmu di kaca jendela
Hujan selalu melambatkan waktu meski senja runtuh di hadapan kita
Kita memang tak pernah bisa memercayai jadwal datang dan pergi kereta
Sementara rel kembali basah karena kenangan

Langit merintik. 
Hujan terkadang menjebak kita dalam kenangan
"Mungkin hujan itu cemburu pada kita"
katamu seperti peramal ulung setelah petir memecah sunyi

Namun langkahmu tibatiba gemuruh di jantungku
Mungkin kau pun tak ingin lagi dicemburui langit
Sehingga pergi adalah cara terbaik meruntuhkan hujan
Sedang aku lebih ingin hujan itu meruntuhkan bulan ketimbang senja
Jika saja aku tahu, di jarimu akan menggelang bulan yang mencekikku


2016