Sunday, January 28, 2024

Jarak

Entah bagaimana lagi kueja parau suaramu
Nasib pun tak kunjung menjelma jalan pulang
Kalimat-kalimat tanya seketika menyerbu
Hari-hari ragu yang menabu

Rasanya, hidup hanya lingkar 
kekal kehampaan
Gelap tak berujung
Wadah segala sepi
Menggambar wajahmu di kelambuku

Sampai kapan?
Aku pun tak sanggup pastikan
Jalan terjal menjejak di kepala
Usaha sia-sia


Panorama, 2024
Tri Cahyana, Herlangga, 
Bryan Dika, Abdillah


1 comment:

  1. Hai, ini aku yang semakin gila karenamu.
    Aku telah memandangi senyummu diam-diam.
    Memperhatikan caramu tersenyum, berjalan, bahkan memperhatikan caramu mencintai orang lain.
    Apa kabar?
    Aku rindu.
    Bukan, namaku bukan rindu tapi aku tak keberatan bila kamu memanggilku sebagai rindu.

    Bila pada jam ini kamu memandangi komentarku di sini, bayangkan saja aku sedang tersenyum saat menuliskannya untukmu.

    Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, doa dariku yang sedikit gila karena mencintaimu.

    ReplyDelete