herlangga juniarko

Powered By Blogger

Saturday, July 27, 2013

Hujan


oleh: Herlangga

Hujan telah meredam luka
Nyatanya hujan pulalah yang telah memisahkan
Tapi tak ada hujan yang abadi
Bahkan luka pun tertutup kala hujan ini
Seperti
Kata-kata yang terpahat di tebing
Akar-akar, fosil, tulang dan beberapa batu
Telah bersembunyi di balik kata
Mereka di kekalkan hujan deras
Adapula
Puntung rokok, sampah plastik, bangkai pabrik
Dan panah eros serta busurnya
Tertimbun lebih dalam dari hati
Ketika hujan telah meredam luka


2012

Friday, July 26, 2013

Nostalgia Akibat Hari Anak....

oke berhubung hari anak masih deket, jadi saya kembali bernostalgia tentang masa kecil saya yang dahulu masih membahagiakan

sedikit cerita waktu saya masih kecil dulu dan perbandingan dengan zaman sekarang,
kerjaan saya tiap hari minggu adalah nongkrong di depan tipi nonton film anak anak yang masih bejibun hampir di semua stasiun tipi, kalo sekarang kalian mungkin udah tau sendirilah...
anak-anak zaman sekarang nongkrongnya udah ga di depan tipi lagi, tapi udah di depan hape
 

kalo zaman saya anak kecil pegang hape itu udah waw banget, tapi kalo hape-hapean sih banyak yang bunyinya tit tit tit...(anggap aja ini suara lagu barat lagi populer saat itu)

Thursday, July 25, 2013

Perempuan Itu Adalah Ibuku

oleh: Arifin C. Noer

Perempuan yang bernama kesabaran
pabila malam menutup pintu-pintu rumah
masih saja ia duduk menjaga
anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya

Perempuan itu adalah ibuku

Perempuan yang menangguhkan segalanya
bagi impian-impian mendatang. Telah memaafkan
setiap dosa dan kenakalan
anak-anak sepanjang jaman

Perempuan itu adalah ibuku

Bagi siapa Tuhan menerbitkan
matahari surga. Bagi siapa Tuhan memberikan
singgasanaNya. Dan dengan segala ketulusan
ia membasuh setiap niat busuk anak-anaknya

Dia adalah ibuku


1969
*diambil dari Antologi "Tonggak 3"

Wednesday, July 24, 2013

Mesin Kawin

oleh: Sutardji Calzoum Bachrie

burung membuat sarang di luar bunga menjadi buah di taman dua seksolog membikin mesinkawin dari kotakkotakkotak daging di atas ranjang baut itu telungkup seksolog saling memasukkan per mulai berdenyut dan busi mengerang tujuh enam lima empat tiga dua satu zero wau! motor menderam roda menggelindingkan daging di atas daging di atas pelamin di atas daging seksolog senyum laju bahtera laju tiktaktiktaktiktak cecak dan aku tersipu seksolog senyum mau kau mencoba mesinkawin? tiktaktiktaktiktaktiktaktiktak no no no no no no no no no no no mulut menjemput mulut daging menjemput daging sekrup baut menangkup hati dan kelamin tiktaktiktaktiktaktiktak seksolog senyum laju bahtera laju mau kau mencoba mesinkawin? tiktaktiktaktiktak aku tak mau di kotak tak mau di sekrup aku mau daging di padang aku mau burung terbang aku mau buah yang lapang tiktaktiktaktiktaktiktak seksolog senyum laju bahtera laju mau kau memaki mesin kawin stainless steel tahan goyang ditanggung sedap menggeliat sendiri bebas dari penat? tiktaktiktaktiktaktiktaktiktaktiktak no no no no no no no no no no no zzzzzzzzzzzz zzzzzzzzzzzz zzzzzzzzzzzz zzzzzzzzzzzz zzzzzzzzzzz no


1970
*diambil dari Antologi "O, amuk, kapak"

Monday, July 22, 2013

Menunggu

oleh: Herlangga Juniarko

Seribu puisi kupahatkan di beranda rumahmu
Tapi kau tak kunjung keluar menyahuti smsku
Hanya angin malam dan redup lampu saja yang menemuiku kala ini

Hingga pada akhirnya hanya tiangtiang dan sunyi hujan
Menemaniku mengobrol tentang seseorang yang mati
Karena terlalu lama menunggu katanya

Lonceng malam dan deru motor geng sudah tak terdengar
Apakah kau masih di dalam rumah?


2012

Sunday, July 21, 2013

Telepon Tengah Malam

oleh: Joko Pinurbo

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
"Siapa ini?", jawabnya cuma "Ini siapa?"

Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
"Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja."
"Ini Ibu, Nak. Apa kabar?"
"Ibu, Ibu di mana?"
"Di dalam"
"Di dalam telepon?"
"Di dalam sakitmu."

Ah, malam ini tidurku akan nyenyak.
Malam ini sakitku akan nyenyak tidurnya.

2004

*diambil dari antologi puisi "Baju Bulan"

Saturday, July 20, 2013

Di Kulkas: Namamu

oleh: Joko Pinurbo

Di kulkas masih ada
gumpalan-gumpalan batukmu
mengendap pada kaleng-kaleng susu

Di kulkas masih ada
engahan-engahan nafasmu
meresap dalam anggur-anggur beku

Di kulkas masih ada
sisa-sisa sakitmu
membekas pada daging-daging layu

Di kulkas masih ada
bisikan-bisikan rahasiamu
tersimpan dalam botol-botol waktu

1991

*diambil dari antologi puisi "Baju Bulan"

Thursday, July 18, 2013

Puisi Pertama, Rin

oleh: Herlangga Juniarko

Rinjani, mungkin ini adalah puisi pertamaku untukmu
coretan-coretan kasar yang mengotori kertas takdirmu
namun coretan itu adalah darahku, Rin

Rambut hitam panjangmu yang membarai udara tersibak angin
menyemaikan cinta sepanjang jarak kita
tapi cintaku seperti pula rambutmu, terus bersemi tanpa lelah

bahkan keringat dan pakaian yang selalu menyusuri lekuk tubuhmu
tak sedikit pun mampu menyentuh ruang sucimu, ruang hati
yang terus menghangat setiap jantung kita berdegub

kau tahu Rinjani, mereka yang kejam
adalah mereka yang memisahkan sepasang kekasih yang saling mencinta
yaitu: ruang dan jarak (selalu seperti itu)

2013

Wednesday, July 17, 2013

Semantik

oleh: Herlangga Juniarko

I
Apa maksudmu?
Ia lebih bermakna dari makna!

II
Apa maknanya?
Ia tidak punya maksud apapun!

III
Jadi bagaimana, Makna?
(K)ita (a)dalah se(t)iap (a)ku.


2013

Tuesday, July 16, 2013

Setiamu

Adalah pentul korek yang tak diaku,
Pun, aku menganggapmu begitu,
Tuan lugu yang selalu bersua tentang aku,
Terus menjamah kerudungku dengan rindumu,

Aku adalah adalah potongan tulang rusukmu, itu katamu
Dan aku bersua, sungguh lucu!
Siapa kamu?
Berani-beraninya selalu mengeja namaku!
Aku takkan bisa kaurindu dalam diammu, Tuan!

Coba katakan!
Kamu akan menungguku sampai langit tak berseliput awan?
Kamu mau menyisakan sehimpit ruang sampai burung-burung gereja tak lagi berdatangan?
Kamu mau merinduku sampai kemarau tak lagi menyesap sepiku?
Kamu mau menjadi udaraku yang bisa setiap saat kuhirup?
Aku yakin kau takkan mau, Tuan.

Sesak, aku merasa udara menyesakkan dadaku
Ketika kamu, dengan segaris senyuman mengangguk mau
Lagi, kamu mau mengisi ruang dalam jelaga hatiku
Aku membisu, aku malu
Aku tak punya lagi peluru untuk menyerangmu
Karena setiamu telah mencumbuku

Sekarang, kamu bukan pentul korek lagi, Tuan
Doa-doa dalam diammu mematahkan lengan egoku
Sajakmu telah merobohkan tembok keangkuhanku
Aku terbius pada setiap lema yang kautulis
Seakan di setiap lemanya mengendap cintamu
Mengembun, menunggu digapai olehku 
Dan sekarang, pun aku mau menerimamu
Karena setiamu


Bandung, 22 September 2011

Monday, July 15, 2013

Diam

: Dhika Zakaria

oleh: Faisal Febriyanto

Barangkali diam
adalah hal yang menyelamatkan
Mungkin tidak selalu
Karena itu terlalu kaku
Kau mampu
untuk tidak begitu
agar waktu tidak membeku
berlalu meninggalkanmu


FPBS, 2012

Saturday, July 13, 2013

Di Musim Semi

oleh: Sungging Raga

pada lukisan terakhir
gadis itu telah kehilangan
seratus koloni kata cinta
yang seharusnya ia dengar
dari lelaki di sebelahnya

“nyatakah engkau ini?”
ia merasa lelaki itu kini hanya prasasti
di lorong bunga
tempat anak-anak muda bercanda
dalam kencan herbivora

“aku ke toilet dulu ya, lima menit.”
ucap gadis itu dengan sedih

—lima menit yang terasa kekal
di dalam hatinya

maka di depan sebuah keramik china
diam-diam ia catat kesedihannya
serupa angin lembut
beraroma terpentin,

“kami pernah di sini.” bisiknya
pada foto seorang kaisar tua

dan saat lelaki itu mengajaknya
pergi dari museum
gadis itu masih menggenggam erat
dua lembar sobekan tiket
yang tak mungkin lagi
diulangi perjalanannya.

Lampung Post, 7 April 2013

Friday, July 12, 2013

Pintu

Malam menyanyikan sepi, juga cahaya rembulan
Namamu adalah lirik yang selalu dinantikan malam untuk dinyanyikan

Lalu bagaimana kabar pintu yang selama ini kau tutup?
Apa ia sudah terbuka seperti angin yang menghempaskan kerikil
Atau ia masih tertutup serupa cadas yang ditumbuk kayu

Kau tahu, aku masih di depan pintu tersebut
Bernyanyi bersama malam
Terus menyanyikan sepi, juga cahaya rembulan

Disini,
Kadang dingin mencekam
Kadang bidadari melenggang


2013
Herlangga Juniarko


Thursday, July 11, 2013

Ada yang Lebih Tabah Dari Hujan Bulan Juni

: SDD 

oleh: Agus Noor

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu
Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu
Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.
Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan 
Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri
Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega
Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hinga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan
Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar
Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu
Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu 


2010

Wednesday, July 10, 2013

Sebelum Hujan Bulan Juni

:sdd

oleh: Aan Mansyur

Bulan-bulan yang sarat air itu telah surut
langit kini hanya punya apa, kecuali api?

Maka menangislah kita sepuas kemampuan,
sebuas kemauan, agar hangus segala rawan
menjadi gumpal jelaga di gempal wajah awan.

Kelak ketika hitam wajah awan yang embun
dari duri dahan mata kita itu kembali mencair,
kita hanya butuh tabah jika seorang penyair
menamainya sesuatu semisal hujan bulan juni.


2009

*diambil dari  http://hurufkecil.wordpress.com/2009/11/02/sebelum-hujan-bulan-juni/

Tuesday, July 9, 2013

Yang Terluka Pada Entahnya

oleh: Herlangga Juniarko

Mawar redam meredamkan kemelut jingga jiwa
Pada mata tertanam duriduriduriduri tipis

Tiga belas ekor gagak menerkam kejam sekerat daging
Pada tubuh terlepas rohrohrohroh naas

Putri Andromeda, wahai putri
Jangan berikan seikat mawar padaku
Karena duriduriduriduri tipis
Sungguh merobek menancap tertanam dalam

Wahai bidadari di ufuk utara gunung surga
Serahkanlah gagak yang sedari itu kau piara
Biar dibawanya rohrohrohroh naas
Sungguh neraka begitu panas meski tanpa rindu


2012

Monday, July 8, 2013

Nokturno

oleh: Acep Zamzam Noor

Untukmu kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan musik yang tenang kulayari gelombang pasang
Kau tahu, betapa hening bunyi yang diciptakannya
Berdenting, mengetuk-ngetuk lantai dan dinding
Betapa nyaring! Betapa runcing percik-percik airnya

Untukmu kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan penuh kekhusukan kudaki nada-nada tinggi
Lalu menukik ke dalam semadi, menyelam ke lubuk sepi
Kau tahu, kekasihku, rindu ialah napas syair-syairku
Ialah gitar yang kugaruki sepanjang waktu

Ialah musik improvisasi, yang iramanya berasal dari lubuk hatiku
Ialah samudera luas yang ikan-ikan serta camar-camarnya liar
Ialah deru angin sakal, yang menghantam layar dan buritan
Ialah gemuruh biru, yang gemanya bersahutan dalam dadaku
Yang menggedor-gedor dinding beku. Aku cinta padamu


*diambil dari Antologi puisi "Tulisan Pada Tembok"

Sunday, July 7, 2013

Menggambar Hujan

oleh: Sabiq Carebesth

Melaju di antara lampu warna senja
Perempuan di tepi jendela warna jingga
Menggambar hujan di atas kota

Deru kereta membawa serta cerita
pilu senantiasa di antara nasib dan cinta

Ia ingin menari ria denganmu
Di malam hujan warna cahaya dan laju kereta
Seperti musik di malam diam
Suaramu menggantikan sunyi
Menjadi kelam dalam bayangan muram

Aku berjalan pada sepanjang jalan
Aku tahu pilu pada yang kehilangan

"jangan kemana-mana..."


jakarta, Mei 2011

*diambil dari antologi puisi "Memoar Kehilangan"

Saturday, July 6, 2013

Mantra: Dunia Sudah Menjadi Seperti Ini

: demokrasi

oleh : Herlangga Juniarko

itam ipat pudih. taykar nakenem utab
......... anerak


Indonesia, 2013

Friday, July 5, 2013

Kau Adalah Horison Tak Kasatmataku

oleh: Herlangga Juniarko

mungkin aku telah terkena Chuunibyou
karena tak ada beda antara nyata dan ilusi

"Banishment This World"

kau melayang serupa bintang dalam tata surya
bercahaya dengan anggun dikejauhan
pada angkasa kau serupa berlian diantara kegelapan dan kehampaan
:seperti hatiku

horison yang tak pernah mampu kulihat
inilah ruang yang tak pernah mampu kusentuh
:seperti hatimu


2013

*Chuunibyou adalah penyakit sosial yang membuat seseorang hidup dalam ilusinya sendiri
**puisi ini terinspirasi dari anime "Chuunibyou  demo koi ga shitai!"

Thursday, July 4, 2013

Angkutan Kota

oleh: Herlangga Juniarko

Dalam angkutan kota
Orang-orang berbicara sekenanya
Adapula yang merenung berpikir

Tentang demokrasi?
Ah, demokrasi hanya mitos purbakala
Sedangkan ego adalah kesalahan yang nyata

Dalam angkutan kota
Kita hanya mendengar dunia mereka
Yang masih terjebak dalam dunia kebohongan
Ladang yang disuguhkankan oleh para kuasa

Sedang kita tetap saja bersama
Selama satu jam menjadi pendengar
Membayar dan kemudian dihempaskan


2012

Wednesday, July 3, 2013

“Kutinggalkan Rembulan padamu, Kanda”



oleh: Herlangga Juniarko
 
“Kanda, aku akan meninggalkan rembulan untukmu”
Siluet senja pun menusuk lubang hatiku
Burung-burung berterbangan pula seakan tak percaya

“Dinda, sungguh aku mencintaimu”
Ombak terasa tenang kini
Ketika rembulan telah kugenggam penuh
Cahaya pun menciut di langit malam ini

Sungguh tak ada yang lebih kelam, Dinda. Selain
Perpisahan yang telah kita duga, seperti nisan
Yang tegak di tanah pekuburan

“Kita pasti akan menyempurnakan sinar rembulan itu, Kanda
Seperti dulu kita menyatukan perbedaan hitam dan putih”
Itulah katamu dahulu, meskipun bayang-bayang
Sempurna benar kelamnya menyobek hatiku seperti siluet senja
Yang menikami awan

“Apakah pisau itu telah kau kirimkan pula, Dinda
Ke dalam jantungku yang tengah retak ini”
“Aku telah mengirimkannya, Kanda. Bersama seribu mawar
Yang telah kau berikan padaku dahulu”
(Hujan badai datang bersama ajal)
Dan rembulan itu kugenggam erat meskipun rusak


2012

Tuesday, July 2, 2013

Kepada Perempuan Berkerudung Senja

oleh: Herlangga Juniarko


Langkahlangkah bukanlah langkah benar
Dulu itu tak tahu siapa yang mencengkeram pagi
Tibatiba matahari sudah di atas kepala
Siang pun menjadi biasa, entah bagaimana
Angin membawa air dari langit
Hingga teduh tempat ini, karena dibawanya pula awan

Rasanya senja tak usah datang
Biar kunikmati sejenak air yang menetes dari kerudungmu
Juga bibir yang kerap menertawakaku kala panas menderai
Tapi memang tak pernah ada yang bertanggungjawab pada
Pagi yang entah dicengkeram oleh siapa (mungkin olehku)

Malam luluh di kakimu, juga aku dan rembulan yang sengaja kuseret padamu
Sepertinya aku terlalu lama mencumbumu
Maka pulanglah sebelum kerudungmu terbang bersama angin malam

Dan kau benar pulang kembali ke utara
Setelah kau mencuci tangan bekas percumbuan kita
Kala siang tadi


2012

Monday, July 1, 2013

MMK

oleh: Putu Wijaya


            SEORANG anak bertanya kepada neneknya:”Nenek,… itu apa?”Perempuan tua itu ternganga. Sebelum dia sempat membuka mulut, pertanyaan itu berkembang.
”Nenek punya … tidak?”Orang tua itu kontan shock. Tetapi cucunya terus juga bertanya.
”Sekarang Nenek punya berapa …?”Karena tak kuat menahan kekurangajaran itu, nenek itu langsung pergi meninggalkan cucunya. Ia mengungsi ke rumah tetangga. Ketika anak dan menantunya pulang, ia langsung melapor sambil menangis.
”Anakmu kurang ajar. Pengaruh film, televisi, pergaulan bebas, dan narkoba sudah membuat dia bejat. Ajari anakmu moral, jangan hanya dikasih duit! Mau jadi apa dia nanti kalau sudah besar? Setan?”Menantu nenek, ibu anak itu langsung mencari anaknya. Tanpa bertanya lagi anak itu langsung diberinya hukuman.
”Kamu sudah kurang ajar kepada nenek, mulai sekarang duit uang makan kamu dikurangi, sampai moral kamu lebih baik. Kamu harus belajar menghormati orang tua. Orang tua itu adalah asal muasal dan cikal bakal kamu, kamu sama sekali tidak boleh membuat orang tua marah. Sekali lagi kamu kurang ajar, ibu kirim kamu ke desa! Tidak usah membela diri!”Anak itu tidak berani menjawab. Tetapi ketika keadaan menjadi lebih tenang, dia menghampiri bapaknya, lalu kembali menanyakan pertanyaan yang belum terjawab itu.
”Pak, — itu apa?”Bapak anak itu terkejut. Cangklong yang sedang diisapnya sampai terlepas. Tetapi ia mencoba tenang, lalu menjawab dengan taktis diplomatis:
”Rambut adalah mahkota semua manusia. …. itu adalah mahkota wanita.